aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Berhemat ala Generasi Milenial dengan Mengurangi 5 Faktor Latte

Thursday, 4 July 2019 02:00:23 WIB | Rizki Adis Abeba
Berhemat ala Generasi Milenial dengan Mengurangi 5 Faktor Latte
Generasi milenial dikenal sebagai generasi yang menikmati hidup. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Generasi milenial dikenal sebagai generasi yang menikmati hidup. Berlibur, makan di restoran, minum kopi di kafe terbaru, hingga bergaya dengan benda-benda mode kekinian menjadi bagian dari gaya hidup generasi milenial yang biasa dipampang di akun media sosial mereka. Namun demi mendukung gaya hidup ini, pemborosan tak terhindarkan. Padahal, generasi milenial—yang saat ini kebanyakan sudah memulai kehidupan berumah tangga—harus pandai mengelola keuangan demi masa depan. Yuk, mulai berhemat!

Bicara soal menabung, kebanyakan orang fokus ke menyisihkan gaji. Padahal ada yang tak kalah penting, yakni mengelola kebiasaan mengeluarkan uang. David Bach, penasihat sekaligus penulis buku keuangan asal New York, AS, mengungkapkan, banyak orang tidak menyadari ada pengeluaran-pengeluaran kecil yang tanpa disadari sebenarnya menguras sebagian besar penghasilan setiap bulan. Ia menyebutnya, faktor latte. Menurut Bach, Anda akan menghemat banyak uang jika bisa mengidentifikasi dan mengurangi faktor latte dalam pengeluaran setiap bulan, seperti 5 faktor berikut ini.

Makan di restoran

Tren wisata kuliner dan mengunggah foto-foto makanan membuat kebiasaan makan di luar rumah semakin tinggi. Hasil survei aplikasi jajak pendapat daring, Jakpat, pada 2016 terhadap 1.623 anak muda milenial di Indonesia mengemukakan, 64 persen responden makan di restoran sekali sebulan dan 30 persen satu hingga lima kali sebulan—angka terakhir bisa jadi bertambah saat ini. Lalu 48 persen menghabiskan 50-100 ribu rupiah sekali makan, 32 persen lebih dari 100 ribu rupiah, dan hanya 19 persen yang mengeluarkan kurang dari 50 puluh ribu rupiah. Artinya, dengan mengurangi rutinitas makan di restoran satu kali saja dalam sebulan, Anda hemat sekitar 50-100 ribu rupiah, lo!

Biaya transaksi antarbank

Berdasarkan hasil survei situs belanja daring ShopBack Indonesia pada Desember 2017, 2 dari 5 orang Indonesia membeli produk secara daring setelah melihat produk itu di toko luring. Tingginya transaksi belanja daring, ditambah kecenderungan generasi milenial menyukai pembayaran nontunai, dibarengi tingginya transaksi transfer ke rekening bank. Untuk transfer antarbank, Anda terkena biaya transfer sebesar 6.500 rupiah per transaksi. Terkesan sedikit, tapi coba perhatikan berapa kali dalam sebulan Anda melakukan transfer antarbank?

Ongkos kirim

Kebiasaan berbelanja daring juga berkaitan dengan pengeluaran untuk ongkos kirim barang. Untuk menghemat, minimalkan ongkos kirim dengan memilih toko daring yang letaknya satu kota dengan tempat tinggal Anda. Atau pilihlah platform belanja daring yang memberikan fasilitas bebas ongkos kirim untuk mengurangi faktor latte dalam pengeluaran bulanan Anda.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Minum kopi

Meminum kopi kini bukan lagi kebiasaan orang tua. Tren es kopi susu dan aneka minuman kopi kekinian menjadikan minum kopi dan kongko di kedai kopi bagian dari gaya hidup generasi milenial. Hasil survei Jakpat, platform survei daring, pada 2015 menyebut, 79 persen orang Indonesia di 10 kota besar yang menggunakan ponsel pintar meminum kopi setiap hari—dengan 46 persen minum kopi di rumah dan 26 persen di kedai kopi. Dengan harga kopi berkisar 15 hingga 50 ribu per gelas di kedai kopi termasuk kopi latte yang rata-rata 30 ribu—dari sinilah istilah faktor latte berasal—bayangkan, berapa banyak uang yang bisa Anda hemat per bulan dengan mengurangi intensitas minum kopi?

Berlangganan kanal YouTube

Dibanding aplikasi medsos lainnya, YouTube paling menyedot kuota data internet. Coba hitung, ada berapa banyak kanal YouTube yang Anda ikuti? Semakin banyak berlangganan kanal YouTube, semakin sering menonton, semakin besar pula pengeluaran Anda untuk membeli pulsa data internet. Cobalah selektif memilih kanal YouTube. Jika tidak penting-penting amat, tidak usah berlangganan. Untuk menyiasati, manfaatkan fasilitas jaringan WiFi di tempat-tempat umum.

(riz)

Komentar