aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

4 Cara Mencegah Konflik Keuangan dalam Pernikahan

Monday, 1 July 2019 21:15:23 WIB | Vallesca Souisa
4 Cara Mencegah Konflik Keuangan dalam Pernikahan
Tidak semua pernikahan bisa berjalan mulus sesuai harapan. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Tidak semua pernikahan bisa berjalan mulus sesuai harapan. Bahkan pasangan yang terlihat kompak dari luar seperti Gading Marten dan Gisella Anastasia saja bercerai. Faktor pemicu perceraian beragam. Konsultan pernikahan dari AS, Shellie Warren, memaparkan 3 pemicu utama perceraian: ketidaksetiaan, keuangan, dan kurangnya komunikasi.

Pemicu nomor dua, yakni keuangan, bila tidak dibicarakan dan diatur dengan baik sejak awal, berpotensi memantik ketegangan dalam rumah tangga. Berikut nasihat dari perencana keuangan sekaligus penulis buku Mengelola Keuangan Keluarga, Safir Senduk, agar uang tak menjadi sumber masalah dalam pernikahan Anda.

Membuat Kesepakatan

Pertama, penting bagi pasangan untuk membuat kesepakatan di awal pernikahan—lebih baik lagi, sebelum menikah. “Tentukan dari awal, siapa yang membayar apa? Siapa yang membayar sekolah anak, rumah, cicilan mobil, dan sebagainya? Apakah semuanya dibebankan kepada suami sebagai kepala keluarga? Atau bila istri juga bekerja, istri bisa ikut membiayai beberapa kebutuhan. Ini harus disepakati. Kesalahan yang sering terjadi, pasangan tidak membahas dan menentukan hal ini sejak awal,” terang Safir.

Pasangan harus terbuka soal penghasilan mereka. Ini penting agar masing-masing mengenali kesanggupan dalam menopang keuangan keluarga. Pasangan juga perlu terbuka soal hobi—khususnya yang melibatkan uang.

“Kita harus membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Yang namanya hobi, hati-hati, bisa tak ada batasnya. Misalnya, istri hobi belanja dan suami hobi koleksi mobil-mobilan. Ini harus ada batasnya. Masing-masing boleh melanjutkan hobi, dengan ketentuan, misalnya sebelum menikah bisa belanja setiap minggu, setelahnya belanja sebulan dua kali saja,” bilang Safir.

Memiliki Rekening Tabungan Pribadi dan Bersama

Untuk mencegah cekcok dan demi kenyamanan bersama, Safir menyarankan suami istri tetap harus memiliki rekening tabungan pribadi. Apalagi kalau sama-sama bekerja. Rekening pribadi bisa menutup pengeluaran pribadi, seperti hobi tadi. “Di luar rekening masing-masing, perlu juga membuka rekening bersama, tempat Anda dan pasangan sama-sama menabung misalnya untuk keperluan sekolah anak di masa mendatang. Rekening ini ditujukan untuk segala sesuatu yang sifatnya untuk kepentingan keluarga atau bersama,” tutur Safir.

Bagi istri yang tidak bekerja, Safir pun menganjurkan tetap memegang rekening sendiri. Lalu cobalah memulai usaha kecil-kecilan di rumah agar dana tidak hanya mengalir dari suami. “Sekarang Anda bisa mencoba bisnis daring. Punya usaha sendiri di rumah juga penting untuk mengantisipasi hal-hal tak terduga di masa mendatang,” ucap Safir.

Selain itu, bukalah beberapa rekening tabungan khusus berdasarkan alokasi kebutuhan. Safir mengatakan, sekarang lumrah orang mengantongi 3-5 rekening tabungan. “Misalnya rekening A khusus tabungan kesehatan, rekening B khusus untuk pendidikan anak, rekening C tabungan khusus liburan keluarga. Keuangan keluarga akan lebih aman,” Safir menyambung.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Merancang Daftar Pengeluaran Bersama

Kalau diminta merancang anggaran, sebagian orang menganggapnya terlalu serius. “Namun setidaknya, duduklah bersama pasangan dan buatlah daftar pengeluaran keluarga. Perinci dalam sebulan, apa saja kebutuhan keluarga, berapa banyakkah pengeluaran? Cukupkah penghasilan yang masuk membiayai pengeluaran itu? Kalau enggak cukup, diskusikan solusinya. Sebaliknya kalau ada lebih, putuskan dialokasikan ke mana kelebihan itu,” ungkap Safir. Daftar ini juga berperan meminimalkan belanja hal-hal yang tidak diperlukan serta menghindarkan pengeluaran melebihi pemasukan.

Membahas Keuangan Keluarga Setiap Minggu

Menjaga keuangan keluarga sehat, pasangan perlu meluangkan waktu khusus untuk membicarakannya. “Sebulan sekali menurut saya kelamaan. Bahas keuangan keluarga setiap minggu. Fokuskan pembahasan ke pengeluaran minggu itu. Berapa besar pengeluaran, apakah ada pengeluaran lain di luar yang sudah dianggarkan?” beber Safir.

Ini memerlukan keterbukaan. Kalau Anda yang membelanjakan uang melebihi anggaran, sampaikan baik-baik kepada pasangan untuk apa dan berapa besarnya. Namun kembali ke poin di atas, kecuali untuk kebutuhan keluarga mendesak, taatilah daftar pengeluaran bersama.

(val)

Komentar