aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Hari Gini Menyisihkan 20 Persen dari Gaji untuk Ditabung, Masih Relevankah?

Friday, 14 December 2018 05:45:31 WIB | Wayan Diananto
Hari Gini Menyisihkan 20 Persen dari Gaji untuk Ditabung, Masih Relevankah?
Tabungan dan investasi perlu dibahas bersama pasangan. (Foto: Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Tahun ini, daya beli masyarakat dikabarkan menurun. Pada saat bersamaan, kita sering dinasihati agar menyisihkan setidaknya 20 persen gaji bulanan untuk ditabung. Hal itu terungkap dalam gelar wicara bertajuk "Financial Literacy for Women bersama Prudential Indonesia" di Jakarta, pekan ini. Pertanyaan yang kemudian muncul, masih relevankah nasihat itu ketika sejumlah harga kebutuhan pokok melonjak dan daya beli masyarakat melemah?

Persentase tabungan bulanan keluarga, sebenarnya tidak harus 20 persen dari gaji. Itu tergantung kebutuhan bulanan rumah tangga. Anda dan pasangan mesti merumuskan pengeluaran untuk kebutuhan pokok keluarga. Mana kebutuhan yang mesti dipenuhi dan yang tidak harus dipenuhi. Adakah tagihan bulanan yang harus dibayar termasuk KPR dan cicilan mobil, misalnya.

"Jadi persentase tabungan bisa diperbesar atau diperkecil. Mengingat, pengeluaran setiap rumah tangga, kan beda-beda. Berapa pun persentase gaji yang ditabung, usahakan ada tabungan setiap bulan," ungkap Corporate Communications and Sharia Director Prudential Indonesia, Nini Sumohandoyo kepada tabloidbintang.com. Ia menambahkan, sangat penting untuk memahami detail pengeluaran rumah tangga.

Masalahnya, tak semua ibu mau meluangkan waktu untuk memahami seluk beluk keuangan dan mempelajari literasi keuangan. Staf Ahli Menteri Bidang Pengentasan Kemiskinan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Titi Eko Rahayu menyebut, data dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2016 oleh OJK menyebut, jumlah orang Indonesia yang melek keuangan masih kurang dari 30 persen.

"Artinya, tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk maupun jasa keuangan masih rendah. Dalam survei itu tingkat literasi keuangan perempuan hanya 25,5 persen. Sedangkan laki-laki 33,2 persen. Kalau pasutri melek literasi, mereka bisa mengelola keuangan termasuk menanam investasi berdasarkan kebutuhan jangka pendek hingga panjang. Sehingga, kondisi finansial mereka lebih aman," Titi menjelaskan.

Komentar