aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Ketika Korban Kekerasan Seksual Memilih Bungkam

Saturday, 11 November 2017 01:00:31 WIB | Agestia Jatilarasati
Ketika Korban Kekerasan Seksual Memilih Bungkam
Ketika Korban Kekerasan Seksual Memilih Bungkam (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Dunia tengah dihebohkan oleh skandal seksual yang dilakukan oleh produser ternama Harvey Weinstein (65). Ternyata, korban dari kekerasan seksual dari Harvey berumlah kurang lebih 50 wanita dari kalangan selebritis maupun model. 

Meski kejadian tersebut telah melukai para korbannya, banyak dari mereka sebelumnya memilih ‘bungkam’ sampai akhirnya kasus ini terungkap oleh Rose McGowan (44) dan Ashley Judd (49) yang menceritakan pengalaman kelam mereka pada The New York Times pada 5 Oktober lalu. 

Gwyneth Paltrow (45) sebagai salah satu korban pelecehan dari Harvey menceritakan bahwa ketika dirinya berusia 22 tahun, Harvey pernah memintanya untuk memijat tubuh sang produser. 

“Waktu itu saya sangat muda, baru dikontrak (di sebuah film), bingung dan ketakutan” ungkap Gwyneth yang akhirnya menuruti permintaan Harvey.

Cara Delevingne (25) pun mengalami hal yang serupa. Ia bercerita bahwa sang produser pernah mencoba menciumnya di sebuah kamar hotel namun, ia berhasil menghindar lalu meninggalkan kamar hotel tersebut. 

Ketika Korban Kekerasan Seksual Memilih Bungkam (Depositphotos)
Ketika Korban Kekerasan Seksual Memilih Bungkam (Depositphotos)

“Aku ragu untuk mengungkap soal ini (pelecehan seksual). Aku tidak ingin menyakiti keluarganya. Aku merasa bersalah seolah-olah aku adalah yang salah. Aku takut.” ungkap Cara dalam unggahan instagramnya.

Perasaan tersebut adalah perasaan yang cenderung dirasakan oleh semua korban kekerasan seksual baik dari kalangan biasa maupun tokoh yang berpengaruh sekalipun. 

Psikolog dari Yayasan Pulih, Gisella Tani Pratiwi, M.Psi., mengatakan seksualitas adalah isu yang sangat pribadi dan masih dianggap tabu untuk diungkap.

Hal ini karena masyarakat saat ini masih menganut budaya patriarki di mana perempuan diposisikan sebagai pihak nomor dua dan laki-laki lebih dominan.

“Lingkaran kekerasan terjadi karena adanya ketimpangan kuasa antara pelaku dan korban. Ketimpangan kuasa yang dimaksud dalam kekerasan seksual adalah berkaitan dengan gender, apalagi jika pelaku memiliki kuasa untuk menentukan nasib korban. Hal ini membuat korbat sulit untuk ‘lari’ atau ‘memutus pola’ kekerasan yang dialami sehingga kekerasan tersebut bisa terjadi lebih dari sekali. Bisa juga si korban diteror oleh pelaku sehingga ia memilih untuk tetap bungkam,” terang Gisella kepada Bintang.

Budaya patriarki pun menyebabkan korban kekerasan seksual menghayati dirinya sebagai pihak yang lemah sehingga ia justru merasa bersalah, dan malu sampai tak bisa mengungkapkan kejadian yang menimpanya.

Kekerasan seksual juga akan menyebabkan trauma secara psikologis sehingga korban semakin sulit untuk mengungkapkannya.

(ages / gur)

Komentar