aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Konsultasi Psikologi: Suami Mengaku Suka Wanita Lain, Haruskah Saya Menyerah?

Saturday, 22 July 2017 05:30:00 WIB | Wida Kriswanti
Konsultasi Psikologi: Suami Mengaku Suka Wanita Lain, Haruskah Saya Menyerah?
Konsultasi Psikologi: Suami Mengaku Suka Wanita Lain, Haruskah Saya Menyerah?

TABLOIDBINTANG.COM - Redaksi Aura membuka layanan konsultasi psikologi. Anda bisa mengisi form KONSULTASI PSIKOLOGI AURA. Tuliskan kisah, kegundahan, atau apapun yang ingin Anda tanyakan berkaitan dengan kehidupan rumah tangga, asmara, masalah-masalah anak, dan lain-lain. Identitas penanya akan dirahasiakan sesuai permintaan.

Jangan ragu untuk bertanya, mari bersama-sama lebih cerdas menghadapi kehidupan ini. Kami tunggu partisipasinya, Ladies.

Tanya:

Dear Aura, 

Saya sudah berumah tangga selama 19 tahun. Suami saya sekarang 47 tahun. Kami sama - sama bekerja di kantor pemerintahan. 

Sejak menikah, suami saya seorang yang sangat perhatian dan penuh kasih sayang. Sampai pada bulan Desember tahun lalu kejadian yang tidak pernah saya bayangnya terjadi. Dia ternyata selingkuh dengan perempuan tetangga saya sendiri.

Di wilayah saya, memang perempuan itu sudah dikenal sering mengganggu suami orang lain. Tapi saya sama sekali tidak membayangkan kalau suami saya sampai tergoda. Bahkan kami sampai dihadapkan di depan pengurus RT/RW dan yang lebih menyakitkan, suami saya jelas - jelas mengatakan di depan saya dan di depan anaknya dan pengurus - pengurus itu kalau dia memang menyukai ibu itu. Walaupun saat itu dia seperti tertekan karena saya mengingatkan pada dia bahwa saya pernah menyampaikan kepada dia kalau orang - orang di kampung menyuruh berhati - hati karena ibu itu menyukainya.  

Waltu itu dia kaget dan terheran dengan ibu itu. Saat saya ingatkan, ibu itu marah dan langsung mendesak suami saya bahwa suami saya yang suka sama dia sambil menghentak - hentakkan kakinya. Dan suami saya saat itu juga langsung bilang iya, saya yang suka, saya yang ngejar - ngejar ibu itu sambil matanya menatap ke atas tidak berani menatap saya dan anak - anak. 

Saat itu saya benar - benar hancur mendengar semuanya. Dan sejak itu setiap saya mengingatkan dia siapa perempuan itu, dia mati - matian membela perempuan itu di depan saya. Dan dia bilang kalau ibu itu wanita yang baik, pekerjaannya halal, dan bla bla bla yang sangat menyakitkan saya. Padahal semua oran gtahu dan sampai RW pun mengingatkan bahwa ibu itu seorang yang, maaf, salome. Tapi suami saya seolah tidak sadar dan lupa diri. Saat itu saya pikir dia sudah terkena sihir. 

Saya berusaha mengajak dia ke tempat rukiyah, tapi dia tidak mau. Dan lebih menyakitkan lagi, anaknya, saat itu anak saya 18 tahun yang selalu berada di sisi saya kemanapun saya pergi dan tidak mau meninggalkan saya dengan kejadian ini, pernah sakit dan masuk UGD. Saya sudah menghubungi suami saya bahkan yang kecil pun menelpon dia, tapi suami saya sama sekali tidak peduli. Bahkan justru kami mendengar kalau dia menengok anaknya ibu itu yang lagi sakit di rumah sakit jiwa. 

Betapa hancur hati kami. Kini suami saya tidak tinggal bersama saya dengan alasan malu dengan orang - orang kampung. Saat ini walaupun kami kadang bertemu baik berdua ataupun dengan anak - anak, kadang dia mengajak buka puasa atau piknik bersama, tapi saya tidak tahu bagaimana hati dan pikirannya. Karena kalau saya membicarakan masalah rumah tangga kami, dia memang bilang akan berubah dan menyuruh untuk menjual rumah kami. Tapi dia tetap ingin tinggal di kota ini sementara saya tidak mau lagi di sini. 

Ini saya jadi bingung, harus terus bersama dia atau cerai saja? Saya tidak tahu lagi kepribadian suami saya. Saya takut dia mau kembali hanya sebagai kedok saja agar saya tidak melapor dan saya sama anak - anak tidak pindah. Keluarga saya sendiri sudah tahu dan menyerahkan sepenuhnya keputusannya kepada saya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Di satu sisi saya masih mencintai suami saya dan saya juga memikirkan anak serta keluarga besar saya.  

Tapi di sisi lain saya juga takut kalau kami melanjutkan ini hanya akan gagal. Sejak kejadian ini saya hanya lebih mendekatkan diri pada Allah SWT dan setiap malam saya terus menangis dan menangisi semua ini. Saya berusaha untuk sabar dan ikhlas. Tapi saya juga tidak bisa membohongi diri saya sendiri. Kalau saya benar - benar tersiksa dengan semua ini. Hanya Allah lah saat ini tempatku mengadu dan bersandar. Apa yang harus saya lakukan? Jalan apa yang harus saya tempuh?

Jawab: (Oleh Anggia Chrisanti, konselor dan terapis di Biro Konsultasi Psikologi Westaria @ig_giadc)

Dear,

Membaca curahan Anda, saya mencoba menjawabnya. 

Berdasarkan dari yang Anda ceritakan, sejujurnya memang tidak cukup dipahami ada apa dan kenapa. Karena jika kejadiannya sepenuhnya seperti itu, terlalu sulit melihatnya sebagai sebuah hubungan perselingkuhan sebab akibat. Karena memang menjadi sulit dan tidak cukup terlihat alasannya dan solusi yang tepatnya. 

Wajar jika Anda menjadi menduga bahwa ada "hal lain" di luar nalar manusia, jika sekali lagi, benar seluruh cerita yang Anda sampaikan. 

Akan tetapi, untuk memberi solusi dan saran, saya khawatir tidak tepat. 

Saya hanya dapat menganjurkan, baiknya permasalahan ini melibatkan keluarga kedua belah pihak, antara keluarga Anda dan suami. Tentu keluarga yang dianggap dituakan dan bijaksana dalam menyikapi permasalahan ini.

Termasuk untuk sementara memberi semacam perlindungan bagi Anda, mengingat nampaknya dari cerita Anda saat ini, Anda dan suami tinggal terpisah. Jangan sampai, masalah yang belum selesai ini ditambah lagi dengan masalah lainnya. Misal, jadi ada timbul fitnah karena Anda hidup sendiri bersama anak - anak. 

Pihak keluarga ini harapannya pun dapat memberi penguatan kepada anak - anak untuk tetap tegar dan kuat, baik untuk diri mereka pribadi maupun menghadapi dan mendampingi orang tuanya, ibunya, dan juga ayahnya. 

Kepada ibunya anak - anak agar dapat mendampingi dan meringankan beban, kepada ayahnya agar juga jangan serta merta membenci sampai diketahui penyebab sesungguhnya Apa

Akan lebih baik jika suami sudah dapat dipertemukan dengan keluarga kedua belah pihak, maka mungkin dapat minta bantuan profesional seperti pemuka agama (spt ustaz) atau psikolog atau konsultan pernikahan.

Demikian yang dapat saya sampaikan saat ini, semoga cukup membantu.

(anggia / wida)

Komentar