aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Memahami Bagaimana Collapse By Design Terjadi, Bullying Kelas Atas?

Thursday, 20 July 2017 21:10:00 WIB | Wida Kriswanti
Memahami Bagaimana Collapse By Design Terjadi, Bullying Kelas Atas?
Dorongan untuk menjadi depresi bisa berasal dari orang lain lewat collapse by design (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Collapse by design, istilah yang dikemukakan ayah Oka Mahendra Putra untuk menjelaskan kematian sang putra, menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Sebuah pandangan diutarakan Anggia Chrisanti, konselor dan terapis di Biro Konsultasi Psikologi Westaria, terkait istilah yang tidak ada dalam dunia psikologi maupun medis ini. 

Dikatakan oleh Anggia Chrisanti, collapse by design bisa diartikan semacam pembunuhan karakter yang direncanakan. Tapi tidak melulu soal pembunuhan karakter. "Yang jelas, membuat collapsed (kejatuhan) dengan direncanakan. Semacam black campaign, juga termasuk collapse by design," buka Anggia Chrisanti. 

Dijelaskannya lebih lanjut, korban atau sasaran tidak dibunuh, tapi dibuat lemah semacam di-bully. Collapse by design juga dapat diartikan membuat situasi disengaja (by design) dengan tujuan collapsed (kejatuhan) dalam hal ini secara psikis atau mental sehingga membuat seseoang menderita sakit psikis (frustasi dan depresi) sampai merasa tidak berdaya dan putus asa. 

"Kemudian korban biasanya dihadapkan pada dua pilihan. Bisa menjadi benar - benar sengaja bunuh diri. Atau menjadi depresi berat hingga terbunuh perlahan - lahan (tanpa berniat bunuh diri)," terang Anggia Chrisanti. 

Pelaku collapse by design bisa jadi seseorang yang amat sakit hati atau ingin menyakiti korban. Namun kemungkinan tidak dilakukan sendiri, melainkan berkomplot.

"Karena membuat seseorang menjadi collapsed dalam waktu singkat tidak mudah. Betul - betul harus by design, diatur dengan segala strategi, secara konsisten dan kontinu. Diserang dari segala sisi oleh banyak orang sehingga korban merasa tidak ada jalan keluar," urai Anggia Chrisanti. "Bisa dibilang inilah bullying sesungguhnya. Tidak sekadar orang yang menerima ejekan lalu mengaku di-bully," pungkasnya. 

(wida / wida)

Komentar