aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Konsultasi Psikologi: Kaget Menemukan Video Porno Suami di Laptopnya

Saturday, 24 June 2017 03:30:00 WIB | Wida Kriswanti
Konsultasi Psikologi: Kaget Menemukan Video Porno Suami di Laptopnya
Konsultasi psikologi, kaget menemukan video porno suami di laptopnya (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Redaksi Aura membuka layanan konsultasi psikologi. Anda bisa mengisi form KONSULTASI PSIKOLOGI AURA. Tuliskan kisah, kegundahan, atau apapun yang ingin Anda tanyakan berkaitan dengan kehidupan rumah tangga, asmara, masalah-masalah anak, dan lain-lain. Identitas penanya akan dirahasiakan sesuai permintaan.

Jangan ragu untuk bertanya, mari bersama-sama lebih cerdas menghadapi kehidupan ini. Kami tunggu partisipasinya, Ladies.

Tanya:

Dear Aura, 

Saya menikah Januari 2015, dan anak pertama kami lahir Desember 2015. 

Baru - baru ini saya tidak sengaja melihat video seks suami saya di laptopnya. Suami saya sering bolak balik ke Bali karena urusan kantornya. Setidaknya satu bulan sekali, biasanya selama dua hari satu malam. 

Tahun 2017, saya melihat ada tiga video seks dengan tiga orang wanita berbeda. Sepertinya hanya kencan satu malam dengan PSK. Lalu ada dua video di tahun 2016 dan ada dua di tahun 2014. Kami sendiri berpacaran dari tahun 2005 - 2009. Sempat putus, lalu nyambung lagi tahun 2011. Waktu itu dia ada pekerjaan di Bali selama dua tahun dari 2011 - 2013. 

Sejak kembali ke Jakarta, hanya beberapa kali ia pergi ke Bali. Tapi tahun 2016 mulai sering ke Bali karena ada pekerjaan baru di sana yang hanya perlu dikontrol sesekali.

Saya benar - benar tidak menyangka suami saya mampu berbuat seperti itu, karena keluarga kami bahagia dan kami punya waktu bersama cukup banyak. Saya sendiri tinggal dengan mertua atau orang tuanya. 

Saya curiga perilakunya ini terpengaruh teman - temannya di Bali. Sejak saya menemukan video tersebut, saya sendiri belum mengatakan kepada siapapun. Saya bingung harus berbuat apa karena anak masih kecil. Kondisi saya juga bekerja.

Saya orang plegmatis yang masih polos dan terlalu baik dan juga penurut. Terima kasih. 

Jawab: (Oleh Anggia Chrisanti, konselor dan terapis di Biro Konsultasi Psikologi Westaria @ig_giadc)

Dear,

Dari apa yang Anda sampaikan, maaf jika saya harus menduga bahwa suami ada kecenderungan memiliki perilaku negatif. Dengan kebiasaannya yang buruk, yang cukup konsisten, bukan sekali, biasana ini bukan sekadar tidak disengaja atau dipengaruhi orang lain. Artinya, ini tidak bisa disebut sebuah kesalahan atau kekhilafan. 

Dugaan saya, sebetulnya Anda menduga laki - laki ini memang ada sesuatu sejak lama. Meskipun tidak jelas, karena buktinya Anda bisa sempat putus dengannya, walau kemudian nyambung kembali. Namun pastilah hal seperti ini terjadi karena suatu alasan. 

Dan kemungkinan Anda dulu tidak menuntaskan masalah, termasuk pada saat menerimanya kembali sampai kemudian menikah.

Ketika Anda mengatakan plegmatis, inipun bisa iya atau tidak. Hanya yang paling mungkin adalah Anda nampaknya tidak berdaya dan ini pun pasti ada alasannya. 

Selingkuh, apalagi jajan dengan PSK saja sudah fatal. Apalagi jika sudah sampai membuat video, ini sudah kelainan seksual. 

Yang harus Anda lakukan adalah mencari orang yang tepat untuk Anda menceritakan masalah ini secara langsung. Konsultasikan kepada konsultan pernikahan atau psikolog atau pemuka agama. Minta pendapat mereka dari sudut pandang yang benar dan seharusnya. Karena ini tidak dapat dibiarkan, juga tidak mungkin menerimanya begitu saja. 

Bisa terjadi hal yang malah merugikan Anda, misalnya masalah kesehatan tertular penyakit seksual. Belum lagi anak Anda. Perilaku menyimpang ini semakin lama (jika tidak dituntaskan) maka akan semakin parah perilakunya. Jangan sampai Anda menyesal saat ada hal yang benar - benar terlambat dan tidak bisa diperbaiki lagi. Misal, secara ekonomi penghasilan suami habis, atau perbuatan - perbuatan dosanya itu berdampak buruk seperti misalnya ada wanita yang hamil. 

Jadi seperti saran saya di atas, cari orang ketiga yang netral dan kompeten (usahakan jangan pihak keluarga) untuk membantu menyelesaikan masalah ini. MInimal jika tidak bisa memperbaiki kelakuan suami Anda, paling tidak membuat Anda lebih objektif untuk menemukan solusi terhadap pernikahan Anda. 

(anggia/wida)

Komentar