aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Konsultasi Psikologi: Suami Pernah Selingkuh dengan Teman Sendiri, Saya Trauma

Friday, 12 May 2017 17:40:00 WIB | Wida Kriswanti
Konsultasi Psikologi: Suami Pernah Selingkuh dengan Teman Sendiri, Saya Trauma
Suami berselingkuh dengan sahabat sendiri, saya tidak mampu melawan (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Redaksi Aura membuka layanan konsultasi psikologi. Anda bisa mengisi form KONSULTASI PSIKOLOGI AURA. Tuliskan kisah, kegundahan, atau apapun yang ingin Anda tanyakan berkaitan dengan kehidupan rumah tangga, asmara, masalah-masalah anak, dan lain-lain. Identitas penanya akan dirahasiakan sesuai permintaan.

Jangan ragu untuk bertanya, mari bersama-sama lebih cerdas menghadapi kehidupan ini. Kami tunggu partisipasinya, Ladies.

Tanya:

Dear Aura,

Saya sangat kepahitan, karena tahun 2005 sampai 2013 suami saya berselingkuh dengan teman saya. Saya sangat kepahitan dan trauma sampai sekarang. 

Suami pun sekarang tidak memberi saya kebutuhan sehari-hari. Saya bekerja pun, gaji malah saya kasihkan ke suami. Saya lakukan semua demi anak-anak. 

Saya sampai sekarang berpikir, semakin tua usia saya, semakin saya berat bekerja. 

Saya harus bagaimana?

Jawab: (Oleh Anggia Chrisanti, konselor dan terapis di Biro Konsultasi Psikologi Westaria @ig_giadc)

Dear, 

Coba Anda mulai pikirkan kembali tujuan Anda menikah. Bukankah seharusnya untuk kebahagiaan?

Meski dalam setiap pernikahan tak ayal pasti ada masalah, namun tentu bukan untuk tersakiti atau terkhianati. Pikirkan kembali tujuan akhir kehidupan Anda. Bahwa usia bukan bertambah, melainkan berkurang. Bahwa fisik bukan menguat, melainkan melemah. Bahwa anak-anak akan semakin besar dan dewasa dan mereka akan menjadi korban dari pernikahan orang tuanya yang tidak sehat. 

Ambil waktu merenung, kenapa Anda masih bertahan, berjuang, sedangkan Anda sendiri ditinggalkan atau dikhianati.

Jika perlu, rasanya ada baiknya Anda datang konsultasi kepada yang ahli (psikolog atau ahli agama) yang cukup Anda percaya. 

Saya khawatir dengan kemungkinan bahwa: Anda senang atau menikmati tersakiti.

1. Mungkin salah satunya karena cinta buta kepada suami. Apapun asalkan suami tidak meninggalkan. 

2. Termasuk merelakan diri Anda, keluarga Anda, termasuk anak-anak hancur. 

Banyak yang berada dalam posisi seperti Anda dan merasa tidak punya pilihan. Terpaksa dijalani saja. Toh, sudah tua dan tidak tahu lagi harus apa dan bagaimana. 

Namun ingatlah, bahwa setiap kita selalu punya pilihan. Bahkan sejak pagi hari, kita dihadapkan untuk bangun atau tidur saja. Dan banyak pilihan-pipihan bahkan dalam setiap hari. 

Artinya, Anda juga harus menyadari, selalu ada pilihan untuk pergi atau bertahan. 

Anda harus punya rasa egois. Pilihan yang dibuat harusnya membawa kebahagiaan. Karena jika bukan kita yang perjuangkan, siapa lagi? Meski tentu egois bukan berarti semaunya. 

(anggia/wida) 

Komentar