aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Ingin Betul-betul Merasa Bahagia? Beranilah untuk Marah

Wednesday, 15 March 2017 12:40:00 WIB | Carisya Nuramadea
Ingin Betul-betul Merasa Bahagia? Beranilah untuk Marah
Kemarahan yang terkontrol baik untuk kesehatan emosi (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Marah bisa saja berdampak positif. Marah, bisa jadi strategi yang tidak wajar untuk mendorong Anda lebih maju. Seperti yang dikemukakan Chris Dessi dalam Inc yang berhasil mengolah marah menjadi energi positif menuju kebahagiaan.

Peneliti Harvard Shawn Achor membeberkan 5 formula untuk kebahagiaan. Di antaranya adalah bersyukur, membuat jurnal, meditasi, olahraga dan melakukan random acts of kindness.

Semua hal tersebut bisa membuat Anda bahagia. Namun karena kebahagiaan adalah sesuatu yang harus dilakukan secara aktif, maka Anda harus memicu diri.

Anda harus ingin bahagia.

Menurut Chris, perubahan terbesar dalam hidupnya adalah dengan merasa marah. S-a-n-g-a-t marah dan jika secara positif dilakukan justru bisa membuatnya lebih bahagia.

Ketika Chris ingin mendapatkan posisi sebagai Vice President, saat itu headhunters mengatakan kalau ia hanya bisa jadi direktur. Chris marah sehingga ia membuat sebuah blog (Christopherdessi) yang kebanyakan berisi pendapat dan kemampuannya di bidang yang ditekuninya. Ia memberitahu perusahaan yang sedang mencari Vice President soal blognya dan akhirnya mendapatkan pekerjaan impiannya.

Lain waktu, Chris ingin berkutat di bidang media sosial. Semua orang menganggap bahwa ia tidak punya pengalaman media sosial. Chris merasa marah lalu memutar otak untuk membuktikan sebaliknya. Ia membeli URL Facebookshouldhireme.com. Lalu ia bercerita tentang passion-nya di media sosial hingga membuat Forbes menulis artikel tentang dirinya. Ia membeberkan artikel itu pada saat wawancara di Buddy Media dan ia (lagi-lagi) mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya.

Setahun kemudian Buddy Media memecatnya. Chris kembali murka. Ia mendirikan agensi yang memenangkan penghargaan dan membuat event global yang diakui secara global. Ia lalu menulis tiga buku, menjadi pembicara, dan muncul di berbagai acara tv nasional.

Kesimpulannya adalah, kemarahan justru menstimulasi Chris melakukan sesuatu. Melakukan sesuatu yang membuatnya produktif dalam mencipta. Energi marah justru bisa jadi kekuatan yang besar untuk meraih kesuksesan jika dikelola dengan baik.

Ia menciptakan sesuatu dengan energi marah tersebut. Ia belajar dan mencari pengalaman. Baginya, marah bisa jadi senjata yang baik. Marah membuatnya ingin bangun di pagi hari lalu ingin membuktikan bahwa orang yang pernah merendahkannya salah besar.

Ketika marah, ia mencari ide, menganilisis kemarahannya dan mencari penyebab marahnya lalu justru menciptakan sesuatu yang baru.

Jadi, ketika Anda merasa marah, berbahagialah. Itu berarti Anda punya energi lebih besar untuk mencipta, menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan bisa jadi lebih sukses!

(dea/wida)

Komentar