aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Bagaimana Bimbingan Orang Tua yang Sesungguhnya Saat Anak Menonton TV?

Sunday, 12 February 2017 08:00:24 WIB | Wida Kriswanti
Bagaimana Bimbingan Orang Tua yang Sesungguhnya Saat Anak Menonton TV?
Ilustrasi (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Sering orang tua melihat tanda BO atau bimbingan orang tua pada layar televisi yang menayangkan acara-acara tertentu. Kita memaknainya secara sederhana sebagai tanda bahwa orang tua harus mendampingi anak saat mereka menonton.

Namun, bagaimana sebetulnya melakukan BO yang benar? Anggia memberikan beberapa kiat yang bisa diikuti.  

1. Sudut pandang
Sebagai pihak utama yang mendampingi anak, orang tua harus menempatkan anak sebagai pusat segala-galanya. Bukan berarti menuruti dan mengikuti segala keinginan anak, namun bahwa kegiatan bersama (dan untuk) anak adalah sasaran utama.

Ini harus dilakukan karena kepentingan anak, bukan kemauan orang tua.

2. Stimulasi penuh
 
Lakukan kegiatan apa pun, termasuk kegiatan pasif, seperti menonton televisi, dengan tetap bertujuan untuk mendorong (menstimulasi) perkembangan anak. Tentu kegiatan pasif tidak akan atau tidak terlalu meningkatkan perkembangan fisik anak, walau ada beberapa sajian atau tontonan yang sengaja dibuat agar anak ikut bergerak, seperti ayo melompat, ayo berputar, dan lain sebagainya.

Kalaupun tidak, kegiatan menonton itu haruslah menyajikan tontonan yang mendorong atau menstimulasi daya pikir, daya cipta, emosional, bahasa, dan komunikasi sebagai dasar pembentukan pribadi manusia yang utuh.

Ingat, ini hanya akan tercapai bila orang tua atau orang dewasa pengganti sementara orang tua benar-benar ada di sekitar anak. Ada dan terlibat secara emosional. Bukan ada secara fisiknya saja, tapi juga terlibat dalam kegiatan menonton itu.

3. Lain anak, lain maunya

Bagi Anda yang punya anak lebih dari satu, jangan pernah menyamakan anak satu dengan yang lainnya. Jika dulu pengalaman Anda dengan anak sebelumnya (anak pertama) adalah bahwa dia senang dengan kegiatan yang lebih pasif, seperti menonton, membaca cerita, menggambar, belum tentu (dan jangan dipaksakan atau dibandingkan) anak kedua atau anak lainnya mau dan nyaman melakukan yang sama.

Atau pun jika sama-sama suka menonton, bisa saja minatnya berbeda, misalnya tema tontonan yang dipilih.

Jadi, pahami terlebih dulu karakter masing-masing anak, dengan minatnya, hobinya, kesukaannya. Ini sangat penting!

4. Jadikan multimedia sebagai alat belajar
Televisi tidak haram. Justru merupakan salah satu bagian dari sarana multimedia pembelajaran. Namun, memang, cenderung sulit membuat anak mau melakukan hal lainnya ketika sudah keasyikan menonton televisi. Dan seringnya, kalau anak terbiasa menonton televisi, dikhawatirkan nantinya sulit (saat sudah punya kewajiban untuk melakukan kegiatan lainnya) lepas dari televisi.

Maka pastikan Anda komitmen membiasakan membatasi waktu menonton televisi atau memagari tayangan yang boleh dan tidak boleh ditonton. Jangan sampai efek negatif menonton televisi (tanpa disadari) telanjur terjadi.

(wida/yb)

Komentar