aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Menghadapi Persaingan di Tempat Kerja, Hilangkan Kecemburuan Terhadap Pesaing dan Fokus

Friday, 10 February 2017 16:20:00 WIB | Rizki Adis Abeba
Menghadapi Persaingan di Tempat Kerja, Hilangkan Kecemburuan Terhadap Pesaing dan Fokus
Hadapi persaingan dengan tetap fokus pada tujuan (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Persaingan dalam dunia kerja bisa menjadi baik atau buruk untuk Anda. Persaingan yang sehat akan mendorong Anda untuk menjadi lebih baik dalam segala hal. Persaingan juga membuat bekerja lebih seru dan menambah semangat. Anda akan terus terpacu untuk menampilkan performa kerja terbaik, demi memenangkan persaingan. Sebaliknya, persaingan yang tidak sehat akan membuat suasana kerja tidak menyenangkan, mengganggu, bahkan memicu stres.    

Mulai dikatakan tidak sehat ketika persaingan mulai menyerang lawan dengan menempuh cara-cara yang curang, melawan aturan, atau dengan menyebar fitnah. Hal ini bisa terjadi karena, “Perasaan (kalah dalam persaingan) ini tidak bisa Anda terima, Anda cenderung menyangkalnya dengan cara yang bisa menyakiti diri dan orang lain,” urai Dr. Lisa Firestone Ph.D, psikolog dan editor senior di laman konsultasi priskologi PsychAlive.org.

Mengapa harus bersaing? Menurut Mary Ellen Slayter, penasehat dan pakar karier di laman Monster, persaingan umumya tumbuh di antara pekerja dengan kemampuan yang hampir sama dengan motivasi kerja yang juga sama besarnya. Sementara itu perusahaan selalu mencari pekerja terbaik. Demi tampil menjadi karyawan terbaik, segala upaya dilakukan sehingga persaingan tak terelakkan.

Masalahnya bersaing, meski dimulai dengan persaingan sehat, tetap berpotensi memunculkan konflik. Bedasarkan survey yang dilakukan laman Monster pada 2014, mayoritas pekerja di Amerika mengatakan persaingan dengan rekan kerja atau atasan memperburuk performa kerja mereka. Menurut survey tersebut, 55 persen dari pekerja yang mengalami persaingan kerja mengatakan, persaingan membuat mereka stres dan menurunkan produktivitas.

Sementara 20 persen lainnya mengatakan persaingan yang tidak sehat membuat mereka bermasalah dengan pihak manajemen. Hanya enam persen dari peserta survey yang mengatakan persaingan di dunia kerja menginspirasi mereka untuk bekerja lebih baik. Tidak jarang, persaingan yang terlalu sengit berujung pada pengunduran diri. Nyaris 30 persen dari responden mengaku memutuskan behenti bekerja karena persaingan di kantor.

Bersaing tanpa menjatuhkan

Menurut Slayter persaingan tetap bisa dilakukan tanpa harus menyakiti dan berubah menjadi persaingan tidak sehat. “Kuncinya adalah keseimbangan,” kata Slayter. “Biarkan persaingan di tempat kerja memotivasi Anda untuk menampilkan performa kerja terbaik, tetapi jangan teralihkan dengan rasa cemburu,” pesannya.

Banyak cara untuk mendorong terjadinya persaingan kerja yang sehat di antara karyawan. Masih dalam survey yang dilakukan Monster, para responden mengungkapkan cara apa saja yang mereka tempuh untuk menghindari stress karena persaingan kerja. Di antaranya adalah bekerja keras dengan fokus pada tujuan mereka saja tanpa terpengaruh dengan apa yang dilakukan oleh rival, membicarakan tentang situasi (persaingan) yang terjadi dengan manajer dan atasan, juga mempelajari keterampilan baru untuk memenangkan persaingan tanpa menjatuhkan lawan.

Ben Dattner, Ph.D, psikolog sekaligus pendiri biro konsultasi Dattner Consulting di New York mengatakan, persaingan di antara pekerja bisa digunakan oleh manajer atau atasan untuk menumbuhkan aura positif dan meningkatkan motivasi kerja bagi karyawan.

“Atasan bisa membuat sistem atau menerapkan budaya pemberian nilai berdasarkan proses kerja, bukan hanya hasil kerja, sehingga para karyawan meningkatkan diri tanpa harus menjatuhkan orang lain,” urai Dattner. “Dengan pengaturan seperti itu, setiap orang berkesempatan memenangkan persaingan dengan cara yang benar karena mereka tidak berfokus pada hasil kerja melainkan bagaimana prosesnya dilakukan,” imbuh Dattner. 

(rizki/wida)

Komentar