aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Pasangan Terciduk Bersama Pelakor, Haruskah Disebar di Medsos?

Wednesday, 24 February 2021 02:00:23 WIB | aura.co.id
Pasangan Terciduk Bersama Pelakor, Haruskah Disebar di Medsos?
Seperti menjadi sebuah tren, kasus pelakor terciduk lalu profilnya diunggah ke media sosial. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Seperti menjadi sebuah tren, kasus pelakor terciduk lalu profilnya diunggah ke media sosial. Beberapa bahkan menampilkan aksi kemarahan pasangan sah kepada sang pelakor langsung. Tindakan kekerasan khas wanita seperti menjambak rambut si wanita perebut suami tak jarang mewarnai. 

Dan seperti apa yang biasa ditampilkan di media sosial, banyak warganet turut meramaikan dengan komentar - komentar yang rata - rata pro kepada pihak pasangan sah. Aksi kekerasan yang dilakukan bahkan mendapat dukungan penuh. Pokoknya, dukung terus supaya pelakor bersangkutan jera dan pelakor - pelakor lain yang belum terciduk segera bertaubat. Kecuali mau mengalami nasib serupa yang ditampilkan media sosial. 

Namun ada satu hal yang sering luput dari pantauan banyak orang, yakni akhir cerita dari pasangan yang bersangkutan. Apakah setelah istri melabrak pelakor, kemudian rumah tangganya akan rukun kembali? Atau justru sebaliknya, pasangan melenggang bahagia bersama sang pelakor?

Konselor dan terapis  Anggia Chrisanti, menyebut ada banyak tindakan yang bisa dilakukan saat menghadapi pelakor. Dengan catatan, cara apapun yang dipilih, tentu mengandung risiko yang mau tak mau harus ditanggung belakangan.  

"Namun demikian, sedikit saran terkait cara menghadapi pelakor, yaitu harus dilandasi bagaimana akhir kisah hubungan yang Anda inginkan," ungkap Anggia. Pilihan dan pertimbangannya sebagai berikut. 

1. Jika berniat menjadi 'baik kembali' atau rujuk dengan suami 

- Temui suami baik - baik, ajak bicara dari hati ke hati, jika perlu minta bantuan ahli (seperti psikolog, konsultan perkawinan, atau pemuka agama).

(Depositphotos)
(Depositphotos)

- Selain introspeksi diri sendiri, juga bingkai pola berpikir Anda bahwa 'tak ada asap tanpa api'. Apapun itu, tentu ada yang melatarbelakangi perselingkuhan suami. Sebelum menyalahkan pelakor, ada baiknya saling introspeksi dan perbaiki kualitas pernikahan yang dijalani. 

- Emosi yang meluap, seperti sedih, marah, kecewa, butuh waktu sendiri, butuh jarak sementara, itu wajar. Dapat didiskusikan. Dengan catatan, tujuannya adalah menjadi baik kembali. Bukan untuk menjauh dan malah membuat panas dan memperburuk suasana. 

Dampak untuk pelakor dengan pilihan ini:

"Jika Anda mengambil sikap dan jalan keluar seperti ini, mungkin tidak ada dampak langsung bagi pelakor," kata Anggia Chrisanti. "Namun harapannya, suami dapat menyadari kesalahannya. Antara Anda dan suami saling memperbaiki dan meningkatkan kualitas pernikahan. Suami akan dengan penuh kesadaran dan sukarela untuk memutuskan hubungan dengan pelakor. Dan suami tidak akan mengulanginya lagi," perinci Anggia Chrisanti. 

2. Jika berniat berpisah 

Pilihannya bisa beberapa, antara lain:

- Permalukan semuanya dengan cara melabrak, mencari bukti, lalu mem-blow up (merekam dan menyebarkan di media sosial, misalnya). Dalam hal ini dampaknya langsung. Semua malu. Suami yang selingkuh, pelakor selingkuhannya, tak terkecuali diri Anda sendiri. Tapi, mungkin akan ada rasa puas. 

- Namun harus siap jika suami jadi membenci Anda, mengakhiri hubungan dengan Anda, hubungan tidak baik (salah satunya bisa berdampak pada keengganan tanggung jawab suami dalam menafkahi anak - anak setelah perceraian). 

- Anak - anak menjadi korban. Karena orang lain akan melihat, menjadi buah bibir. Anak - anak biasanya akan menjadi malu dan hubungan anak dengan ayahnya menjadi tidak baik. 

- Penyelesaiannya biasanya berakhir tidak baik untuk semuanya. Hanya ada rasa puas saja. 

Komentar