aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

8 Cara Memastikan Pernikahan Harus Berujung pada Perceraian atau Tidak

Monday, 22 February 2021 22:30:23 WIB | Wida Kriswanti
8 Cara Memastikan Pernikahan Harus Berujung pada Perceraian atau Tidak
Bisa jadi rujuk, namun tetap sengsara. Atau benar bercerai, namun menyesalinya seumur hidup. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Celine Evangelista mengakui bahwa ia sedang berada dalam kebimbangan terkait pernikahannya dengan Stefan William. Walau telah keluar dari rumah dan tinggal terpisah dari suami dan anak-anak, namun Celine ternyata belum bisa memastikan keinginannya sendiri. Apakah benar ingin bercerai atau rujuk.

Banyak wanita yang dihadapkan pada kemungkinan perceraian tanpa adanya alasan luar biasa, seperti perselingkuhan atau KDRT, bisa jadi mengalami kebingungan seperti dialami Celine. Ujung-ujungnya, bisa jadi rujuk, namun tetap sengsara. Atau benar bercerai, namun menyesalinya seumur hidup.

Dilansir dari Mediate, setidaknya ada 8 pertanyaan yang harus diajukan pada diri sendiri agar kita benar-benar bisa rujuk atau bercerai tanpa drama penyesalan.

1. Apakah Anda masih menyimpan rasa terhadap suami?

Anda masih sangat jelas mengingat momen-momen penuh cinta dengan pasangan. Tapi Anda hanya stres karena keuangan keluarga sedang jatuh.

2. Apakah Anda pernah benar-benar menikah?

Selama usia pernikahan, setidaknya Anda pernah merasakan momen sebagai pasangan suami-istri sebenar-benarnya. Antara lain, ada pemenuhan nafkah lahir dan batin, pasangan memperlakukan Anda dengan baik, dan lain-lain.

3. Apa Anda benar-benar siap bercerai, bukan sekadar mengancam?

Mungkin, Anda hanya merasa perhatian suami belakangan ini berkurang. Anda hanya ingin didekati lagi, dirayu lagi, untuk kembali rujuk. Hanya saja ada risiko dari perbuatan mengancam seperti ini, karena bisa jadi suami tak terketuk hatinya dan malah menganggap Anda drama. Duh, bisa cerai betulan deh.

4. Apakah ide bercerai berasal dari pemikiran matang atau reaksi emosi semata?

Saat bertengkar, bukan tidak mungkin wanita berteriak 'ingin cerai!'. Namun karena telanjur terucap, Anda terlalu gengsi menarik ucapan tersebut.

5. Ada rencana apa setelah bercerai?

Di sini tak hanya terkait sudah siap pekerjaan baru, rumah baru, atau mungkin pasangan baru yang menunggu di luar sana.

6. Pernah mencoba menyelesaikan masalah di dalam pernikahan Anda?

Jika sudah pernah mencobanya dan ujungnya tak menemukan kesepakatan, boleh jadi perceraian jalan terbaik.

7. Mampukah Anda menghadapi risiko perceraian yang mungkin tak menyenangkan

Ini terkait kesiapan mental Anda jika perceraian benar-benar terjadi. Yakin siap atas segala kemungkinan?

8. Apakah Anda akan menjalani kehidupan Anda setelah perceraian dengan mandiri dan bertanggungjawab?

Walau belum siap segala sesuatunya, minimal niat untuk mandiri harus tebersit dan dimantapkan dalam hati. Jika belum apa-apa, Anda sudah membayangkan menuntut ini itu, seperti biaya bulanan, hak rumah, dan lain sebagainya, Anda belum siap bercerai. Jika mengatur seseorang yang masih satu rumah saja sulit, yakinlah setelah bercerai akan lebih tidak ada jaminan atas segala sesuatunya. Maka mandiri menjadi suatu keharusan.

Komentar