aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Punya Pasangan Suka Selingkuh, Maafkan atau Lepaskan? Lepaskan!

Friday, 19 February 2021 21:30:23 WIB | Wida Kriswanti
Punya Pasangan Suka Selingkuh, Maafkan atau Lepaskan? Lepaskan!
Tak seorang pun berada dalam keadaan siap ketika mendapati pasangan sahnya melakukan perselingkuhan. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Tak seorang pun berada dalam keadaan siap ketika mendapati pasangan sahnya melakukan perselingkuhan. Karena pernikahan hampir selalu dilakukan dengan cita-cita satu untuk selamanya.

Lantas, ketika kita berada dalam posisi sebagai pasangan sah dari pelaku perselingkuhan, langkah yang menjadi pilihan terbaik? Memaafkan atau melepaskan?

Pertama-tama, menurut Anggia Chrisanti Darmawan, praktisi psikologi sekaligus fouder sekolah keluarga SEKAR, pasangan dari pelaku perselingkuhan harus tetap bisa objektif.

Artinya, ketika mengetahui pasangannya berselingkuh, tidak lantas terpancing emosinya. Misalnya, dengan malah saling memaki, saling menjahati, saling labrak, saling posting menjelekkan, membuka aib, apalagi balas dendam dengan cara selingkuh juga.

"Itu sangatlah tidak obyektif," buka Anggia. "Terlebih jika di sana ada anak yang melihat, mendengar, meniru. Semua yang terjadi akan membekas. Belum lagi ada orang tua dan keluarga besar kedua belah pihak," lanjutnya.

Langkah selanjutnya adalah memahami dulu akar dari perselingkuhan. Bahwa, perselingkuhan adalah 'penyakit'. Bukan karena ada yang lebih cantik, lebih baik, lebih seksi, lebih sering bersama (intensitas atau yang biasa disebut cinlok), dan dugaan-dugaan lainnya.

"Karena selingkuh itu penyakit, maka yang namanya penyakit harus disembuhkan dulu. Cari bantuan profesional. Psikolog sampai psikiater," ungkap Anggia.

Hal ini harus dilakukan agar pasangan kita dan kita sendiri tahu benar duduk permasalahan dan jawabannya secara medis atau ilmiah tentang penyebab selingkuh, dan mau melakukan upaya kesembuhan. Yakni dengan melakukan konseling, berobat, dan lainnya.

Jika pasangan komitmen melakukannya, maka menerima dan bersabar menemani pasangan dalam proses penyembuhannya mungkin lebih tepat. Karena jelas ada tujuan serta harapannya.

"Tapi jika pasangan bahkan menolak untuk dibantu secara profesional, menolak melakukan upaya penyembuhan, dan atau inkonsisten dan tidak mau komitmen, artinya memang tidak ingin sembuh," papar Anggia.

"Maka baiknya adalah menerima dan lalu lepaskan. Karena (selama belum sembuh) ini akan terus terjadi, dengan yang lama atau dengan yang baru, sekarang ataupun nanti," pungkas Anggia.

Komentar