aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Sudah Tahu Salah, Tapi Selingkuh Tetap Dilakukan: Semata Khilaf atau Penyakit?

Friday, 19 February 2021 17:00:23 WIB | Wida Kriswanti
Sudah Tahu Salah, Tapi Selingkuh Tetap Dilakukan: Semata Khilaf atau Penyakit?
Tabiat selingkuh bahkan bisa muncul pada orang-orang yang terlihat baik perangai juga ibadahnya. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Normalnya, saat kita melakukan kesalahan, kita akan refleks berhenti dan tidak melanjutkan kesalahan tersebut. Namun berbeda dengan selingkuh. Walau pelakunya tahu pasti itu perbuatan salah, seringnya justru diteruskan atau bahkan melakukannya berulang.

Pertanyaannya, pantaskah selingkuh disebut kekhilafan semata yang bisa selesai dengan permintaan maaf?

Anggia Chrisanti Darmawan, praktisi psikologi sekaligus founder sekolah keluarga SEKAR, menyampaikan pandangannya, bahwa selingkuh memang lebih pas disebut penyakit alih-alih sekadar perbuatan salah atau khilaf semata.

"Karena ketika seseorang menyadari sebuah perbuatan salah dan dosa dan tetap dilakukan bahkan dipertahankan (diulang-ulang), maka sesungguhnya ini tidak sekadar masalah moral. Tapi sudah dapat dikatakan sebagai gejala masalah kejiwaan bahkan sampai pada gejala gangguan jiwa," papar Anggia.

Oleh karenanya, jika Anda merasa sebagai diri yang punya bakat selingkuh, benar pernah melakukannya, apalagi melakukannya berulang dan atau mempertahankannya, maka solusinya tidak bisa sekadar pembicaraan kekeluargaan, pemaafan tanpa solusi, apalagi pertengkaran tak berujung.

"Pelaku selingkuh, justru harus ditangani ahli atau profesional untuk proses penyembuhannya. Bisa psikolog atau bahkan psikiater," kata Anggia.

Karena yang perlu kita sadari, keberadaan mereka yang memiliki penyakit bawaan selingkuh tidak nampak di depan mata dengan tanda-tanda khusus. Tabiat selingkuh bahkan bisa muncul pada orang-orang yang terlihat baik perangai juga ibadahnya.

"Maka harus disembuhkan agar tidak terus berkembang penyakitnya dan bahkan menulari atau memakan korban," tegas Anggia.

Komentar