aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Terjebak dalam Euforia Selebgram, Bagaimana Solusinya?

Wednesday, 3 February 2021 13:00:29 WIB | Wida Kriswanti
Terjebak dalam Euforia Selebgram, Bagaimana Solusinya?
Instagram

TABLOIDBINTANG.COM - Media sosial bisa membuat siapapun menjadi selebritas. Seolah begitu mudah untuk eksis dan tak jarang dijadikan bahan pemberitaan.

Awalnya, menjadi selebgram atau eksis di media sosial hampir pasti merupakan pilihan yang dilakukan secara sadar. Jika kemudian mendapatkan atensi publik, tergantung pada bagaimana individu bersangkutan menyikapinya.

Termasuk ketika mulai ada 'tuntutan' yang salah satunya berupa pelabelan, entah itu sebutan 'anak sultan', 'body goals', 'mom goals', 'couple goals', dan lain-lain. Apakah serta merta akan manut mewujudkan konsepsi yang menjadi angan-angan orang lain atau tetap fokus menjalani hidup apa adanya?

"Segala cerita di baliknya, bahkan ketika kehidupan pribadi pun tak ayal dibawa menjadi sebuah cerita yang 'harus jadi sesuatu', maka tentu banyak hal yang lebih tidak boleh terlihat daripada apa yang boleh terlihat," buka Anggia Chrisanti Darmawan, praktisi psikologi yang juga founder sekolah keluarga SEKAR. "Namun jika memang itu pilihan yang diambil, maka sebaiknya persiapkan juga kuncinya," lanjutnya.

Dikatakan Anggia, kunci bagi setiap pesohor, termasuk selebgram, adalah dengan memiliki konsultan atau psikolog pribadi yang secara teratur akan mengontrol sekaligus menjaga individu bersangkutan dari kehidupan yang penuh drama. Seperti layaknya pesohor biasa memiliki asisten pribadi untuk mengurusi keperluannya, dokter pribadi untuk mengurusi kesehatan fisiknya, pengacara pribadi untuk mengurusi hal-hal pribadi yang terkait hukum, maka mengapa sangat jarang pesohor yang memiliki konsultan pribadi untuk menjaga kewarasan mentalnya?

"Kenyataannya yang lebih parah dan sering tidak tertangani adalah masalah mental dan psikis, yang kemudian terlena berlarut-larut, lupa membedakan yang nyata dan yang di depan kamera, hingga perlahan diri dan kehidupan nyata menghilang dan menyisakan tumpukan masalah yang lebih fatal," urai Anggia.

Komentar