aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Pasangan Tersandung Masalah, Haruskah Langsung Menggugat Cerai?

Thursday, 21 January 2021 05:00:23 WIB | Wida Kriswanti
Pasangan Tersandung Masalah, Haruskah Langsung Menggugat Cerai?
Tak seorang pun mau memiliki pasangan bermasalah. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Penyanyi Nindy Ayunda melayangkan gugatan cerai terhadap Askara Parasady Harsono pada 12 Januari 2021. Hal itu terjadi hanya berselang 5 hari setelah sang suami ditangkap polisi terkait kasus psikotropika dan kepemilikan senjata api.

Langkah yang dilakukan Nindy tentu sedikit banyak membuat orang bertanya-tanya, haruskah secepat itu mengambil keputusan cerai? Tentu, tak seorang pun mau memiliki pasangan bermasalah. Akan tetapi sekali lagi, haruskah secepat itu? Terlebih Nindy dan Aska sudah cukup lama melalui mahligai perkawinan dan bahkan telah dikaruniai dua buah hati.

"Kenyataannya kita harus lebih sering mendengar suara logika. Karena seringnya, rasa cinta membuat kita menjadi mudah percaya pada semua kata maaf begitu saja," kata Anggia Chrisanti, praktisi psikologi sekaligus founder Sekar Family Life Center (@Sekar_sekolahkeluarga). "Sampai dihadapkan pada berkali kesalahan dan harus jatuh pada hal yang fatal, barulah terbuka mata dan telinga."

Ada tanda-tanda yang begitu jelas bahwa pernikahan memang harus segera diakhiri. Misal hubungan yang sudah mengarah pada perilaku toxic dan abusive. Namun dalam praktiknya, tetap membutuhkan proses hingga benar-benar sampai pada keputusan harus ketok palu cerai di persidangan. Pastikan dulu apakah seseorang yang bermasalah ini memang harus sesegera mungkin ditinggalkan, atau justru mendapatkan dukungan kita sebagai pasangan hidupnya.

Beberapa tahapan cara yang bisa dilakukan, misalnya dengan meminta bantuan orang-orang terdekat yang dipercaya cukup bijak, seperti keluarga atau sahabat, untuk meminta pertimbangannya. Bisa juga menghubungi konselor pernikahan atau mereka yang memang ahli di bidangnya.

"Memang tidak mudah memilah mana yang kekhilafan dan mana musibah yang diciptakan. Oleh karenanya, jika dihadapkan pada konflik logika dan rasa, baiknya bicarakan dengan ahlinya (konsultan / psikolog), pihak ketiga yang netral," tegas Anggia.

Bukan berarti setelah melalui proses maka hasilnya harus rujuk atau tidak bercerai. Akan tetapi, jika tetap pada keputusan untuk berpisah pun, setidaknya kita bisa memetik pelajaran apapun yang berarti dan berguna untuk memulai dan menjalani hubungan baru ke depannya. Memahami dengan benar permasalahan yang terjadi dan berdamai dengan kenyataan hingga bisa mantap melangkah atau move on. Tidak mau terjebak dalam kesalahan yang sama, kan?

Komentar