aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Cara Agar Anda dan Pasangan Tetap Harmonis Setelah Punya Anak 

Sunday, 29 November 2020 10:00:23 WIB | aura.co.id
Cara Agar Anda dan Pasangan Tetap Harmonis Setelah Punya Anak 
Memiliki buah hati menjadi anugerah sekaligus tantangan tersendiri bagi pasangan yang baru saja menjalin rumah tangga. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Memiliki buah hati menjadi anugerah sekaligus tantangan tersendiri bagi pasangan yang baru saja menjalin rumah tangga. Setelah seorang bayi mungil lahir di tengah-tengah Anda berdua, tugas dan kewajiban masing-masing pasangan sebagai suami istri mungkin tampak menjadi samar.

Sebagai seorang ibu baru, Anda mungkin mengalami dilema antara menjalankan tugas harian Anda seperti memasak, membersihkan rumah dan bahkan bekerja dengan mengurus anak. 

Tentunya, anaklah yang menjadi prioritas utama bagi Anda!

Perubahan hormon dan rutinitas tidur ketika memiliki si kecil menuntut Anda dan pasangan untuk lebih bisa bekerjasama.

Namun kadang, memiliki bayi kecil di rumah bisa jadi tantangan dan bahkan kendala, apabila Anda dan pasangan tidak bisa saling mengungkapkan perasaan dan sadar akan perubahan peran yang signifikan ini.

Berikut cara agar Anda dan pasangan tetap harmonis dan jauh dari konflik rumah tangga walau setelah kehadiran si kecil di rumah dilansir Telegraph UK.

1. Lupakan kata 'nanti'

Mungkin terbaik bagi suami untuk menghindari kata "nanti" sepenuhnya, menurut psikoterapis Jean Fitzpatrick. Ini adalah kata yang sangat mengejutkan ibu, katanya karena ketika memiliki bayi, para ibu cenderung menjadi orang - orang yang melakukan tugasnya dengan sangat cepat melibatkan tenggat waktu yang ketat.

2. Penggunaan kata 'saya' dan 'kamu'

Ketika sebuah isu muncul, pilihlah kata 'saya' yang kemudian diikuti 'kamu', saran  konselor pasangan suami istri, John dan Julie Gottman. Mengatakan "Saya merasa terbebani dan berharap kamu yang membereskan rumah" lebih diperhatikan dibanding "Kamu tuh tidak pernah mencuci piring", yang membuat pasangan Anda bersikap defensif dan marah. 

Jelaskan apa yang terjadi tanpa penilaian (hadapi masalah, bukan orangnya' untuk menggunakan bahasa konselor). Nyatakan dengan jelas apa yang Anda butuhkan, akui peran Anda dalam argumen, bahkan jika itu kecil, dan jika Anda berulang kali bentrok dalam sebuah isu, sebuah pertanyaan sederhana dapat dipecahkan ke inti masalahnya: mengapa ini penting bagi Anda?

3. Libatkan pasangan

Kadang, para ibu merasa bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik dari pasangannya. Para ahli psikologi menyebutnya 'maternal gatekeeping' - mengkritik atau membuat ayah tidak terlibat dalam perawatan harian bayi, yang dapat membuat sang ayah menjadi ragu dan merasa tidak becus jadi ayah.

Tidak perlu mengkritik pasangan jika ia tidak bisa memakaikan popok dengan benar. Atau ketidakmampuan ia membersihkan kotoran bayi. Libatkan suami Anda apapun dalam urusan rumah tangga dan bayi tanpa harus mengkritiknya. Pujilah sesekali atau berterima kasihlah jika perlu.

4.Bagi tugas dengan jelas

Bagi tugas Anda dan pasangan dengan jelas. Kadang sulit membuat pria berinisiatif terlebih akan tugas - tugas yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya. Katakan dengan jelas dan buat kesepakatan bersama terkait siapa yang membersihkan kamar hingga urusan membeli kebutuhan rumah tangga Anda saat si kecil hadir dalam keluarga kecil Anda.

5. Kencan berdua

Luangkan waktu Anda untuk berdua. Kadang ketika baru pertama kali memiliki anak, pasangan muda terlalu fokus pada anak hingga melupakan pernikahan mereka.

Ambilah waktu sepuluh menit di akhir hari untuk membicarakan sesuatu -- apapun -- kecuali tentang anak kami, penjadwalan logistik, dan uang.

(dea / wida)

Komentar