aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Memergoki Suami Teman Anda Berselingkuh, Apa yang Harus Dilakukan?

Tuesday, 10 November 2020 09:00:23 WIB | aura.co.id
Memergoki Suami Teman Anda Berselingkuh, Apa yang Harus Dilakukan?
Coba bayangkan, Anda memergoki suaminya menyeleweng. Mungkin si istri bisa terus menjalin hubungan baik dengan Anda, tapi pasti ia akan menjaga perasaan suaminya juga. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Anda sedang bertugas ke luar kota selama beberapa hari. Dalam satu kesempatan tak terduga, Anda melihat suami seorang teman berada di restoran yang sama. Tapi ia sama sekali tak mau berbasa-basi, apalagi menyapa. Ia bahkan bersikap seolah tak mengenali Anda. Apa pasal? Ternyata bukan karena berada di luar kota, tapi karena wanita yang duduk mesra di sampingnya. Yang Anda tahu, wanita itu bukan teman Anda, dan juga bukan istrinya. 

Meski Anda tergolong wanita yang sukses, tetap saja muncul berbagai pertanyaan yang memancing rasa ingin tahu. Apakah dia lebih muda? Apakah ia punya rambut indah? Segala hal soal penampilan si wanita tadi seakan memenuhi benak Anda. Bukan apa-apa. Anda cuma punya perasaan yang tak bisa ditahan lagi, seakan punya tanggung jawab untuk melakukan sesuatu. Menikah atau tidak, punya anak atau tidak, mungkin itu termasuk pertanyaan yang muncul kemudian. Wanita seakan punya naluri terhadap ancaman retaknya perkawinan. 

Memang sih, wanita juga yang membuat pria berselingkuh. Tapi tak bisa disangkal, rasanya pria lebih mudah tergoda wanita di luar lingkungan keluarganya, setidaknya setelah punya anak. Dan rasanya istri-istri lebih banyak menghabiskan waktu mempertanyakan kesetiaan suaminya dibanding para suami. Masalahnya sekarang, kalau melihat suami teman Anda berselingkuh, apakah Anda punya tugas etis untuk mengatakan kabar buruk itu? 

Tapi setelah dipikirkan, yang tidak hanya butuh waktu berjam-jam, jawabannya sederhana saja, kalau tak ada pertanyaan, jangan dijawab. Dengan kata lain, kecuali teman Anda bertanya, lebih baik diam saja. Itu pun kalau teman Anda jelas-jelas menanyakan perselingkuhan suaminya. Kalau berandai-andai, sebaiknya tak perlu Anda beri sinyal-sinyal tertentu yang malah membuat teman Anda curiga. Bayangkan saja kalau kejadian serupa menimpa Anda. Tentu Anda tak ingin diberitahu kabar buruk itu kan? Lebih baik melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Pikirkan secara matang sebelum memberitahu

Rasanya kesal kalau melihat seseorang yang Anda kenal disakiti. Apalagi melihatnya secara langsung, jadi Anda punya bukti kuat sebenarnya. Tapi seandainya langsung memberitahu teman Anda, apakah itu hal yang paling baik? Sebelum memberitahukan kabar buruk itu pada teman Anda, sebaiknya pikirkan lagi lebih matang. Jangan sampai Anda menyesalinya kemudian. 

Cobalah pikirkan lebih dalam. Anda sebagai penyampai pesan, menyampaikan kabar buruk pada teman Anda. Kalau Anda bersahabat dekat, mungkin kata-kata Anda bisa dipercaya. Itu pun kalau ia tahu suaminya orang brengsek. Masalahnya mana yang akan lebih dipercaya? Omongannya atau omongan suaminya? Kalau Anda berniat membawa bukti, misalnya foto atau hal lain, bisa saja. Tapi bukankah akan tampak tidak etis, membawa-bawa bukti penyelewengan suami orang? Jangan-jangan Anda malah dituduh memfitnah hingga membuat rumah tangga orang lain berantakan. 

Seandainya teman Anda percaya, lalu bukti-bukti itu dibawanya pada suami, apa yang akan terjadi selanjutnya? Umumnya ada 2 hal yang biasa dilakukan para suami. Pertama, mengakui perbuatannya. Ada kemungkinan ia akan mengajukan pembelaan. Misalnya, itu hanyalah satu kekhilafan yang tak akan terjadi lagi. Atau itu hanyalah pertemuan biasa yang tak melibatkan cinta sama sekali. Jadi ia akan berusaha melupakan dan tak akan pernah melakukannya lagi. Kemungkinan kedua, mungkin si suami tak akan mengakui perselingkuhannya. Meski ada bukti berupa foto, misalnya, di zaman secanggih ini, mudah saja membuat foto seperti itu kan? Kalau sampai si istri percaya perkataan suaminya, posisi Anda bisa gawat. 

Kemungkinan pertama, bukan tanpa masalah. Setelah sang suami mengaku, apa yang akan dilakukan istrinya? Bercerai? Jangan sampai Anda merasa bersalah jika hal ini yang terjadi. Kalau tidak bercerai, apakah si istri mau memberikan kesempatan kedua pada suaminya? Kalau iya, apakah situasi dan kondisinya bisa seperti dulu? Kemungkinan besar tidak. Akan terjadi ketidaknyamanan dalam hubungan Anda dengan keluarga mereka. Coba bayangkan, Anda memergoki suaminya menyeleweng. Mungkin si istri bisa terus menjalin hubungan baik dengan Anda, tapi pasti ia akan menjaga perasaan suaminya juga. Suaminya pasti merasa malu dengan penyelewengannya. Akan sangat tidak enak bila Anda berada satu ruangan dengan suaminya. Ada perasaan canggung, jengah, malu dan semuanya campur aduk sampai tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Untuk menghindari hal itu, biasanya si istri mencoba untuk tidak lagi memberi kesempatan pada Anda bertemu dengan suaminya. Wah, bisa-bisa Anda tak akan mendapat undangan pesta di tempatnya lagi! 

Pada akhirnya, kita menyadari selalu ada jalan keluar dalam setiap masalah. Dalam perkawinan, biasanya ada kompromi dan penyesuaian yang dilakukan antara suami dan istri untuk menjaga keutuhan komitmen mereka. Kalau salah satu dari mereka gagal, bukan tidak mungkin dilakukan kompromi dan penyesuaian lagi. Bercerai? Mungkin jadi jalan keluar yang paling terakhir, apalagi jika sudah punya anak. Lagipula, apa yang dilihat mata Anda sebagai perselingkuhan, bisa jadi bagi mereka hanya pertemanan biasa. Siapa tahu nilai-nilai yang mereka anut berbeda dengan Anda. Aneh? Tapi bisa jadi benar, 'kan?

Bagaimana dengan penularan penyakit?

Masalahnya lebih berat jika memperhitungkan ancaman bagi kesehatan reproduksi teman Anda. Di zaman yang canggih seperti ini, memang banyak obat yang berhasil ditemukan. Namun tak sedikit pula penyakit baru yang muncul. Misalnya AIDS yang sampai sekarang belum ketahuan obatnya. Dan ini tak bisa disangkal, bisa menular lewat hubungan seksual. Tapi apakah ini sudah bisa jadi alasan untuk mengatakan penyelewengan si suami di depan istrinya? 

Kebanyakan orang cenderung mengagungkan monogami. Ada juga yang menggunakan penyakit kelamin sebagai alasan untuk tetap bermonogami. Tapi masih banyak lagi yang tak peduli akan kesehatan reproduksinya. Tapi masalahnya tak sesederhana yang terlihat. Kenapa? Pertama karena Anda hanya bisa menduga sejauh mana hubungan sang suami dengan selingkuhannya. Tak bisa secara pasti, kecuali Anda memang sudah berniat dan berusaha memergokinya di tempat tidur. Tapi jarang sekali yang melakukan hal ini. Yang kedua, kalau yang jadi fokus perhatian Anda adalah kesehatan si istri yang notabene adalah teman Anda, rasanya lebih mudah jika menemui suaminya dan mengatakan terus terang apa yang Anda ketahui. Jika ia tidak bertindak atau memutuskan hubungan dengan wanita itu, Anda bisa memperingatkan istrinya. Memang terlalu berisiko, membuat hubungan Anda dengan suaminya jadi tidak nyaman. Namun kalau ingin teman Anda tidak lagi merasa bersalah karena menderita penyakit kelamin, itu satu-satunya pilihan. Biar si istri tahu, bahwa ia tak bersalah. 

Di awal artikel, disebutkan bahwa lebih baik diam jika tidak ditanya. Berpura-puralah kalau Anda tak tahu apa yang terjadi. Tapi memang ada satu waktu di mana Anda tak bisa lagi tinggal diam. Seperti yang pernah dialami Vicki. Seorang temannya menelepon sambil menangis. Ia memang pernah mendengar keburukan suaminya, tapi tak pernah menggubris. Sampai suatu saat ia menemukan surat cinta dalam saku celana suaminya, juga peralatan make-up yang sebelumnya belum pernah ia lihat di mobil suaminya. Ditambah lagi dengan datangnya tagihan kartu kredit yang jumlahnya membengkak untuk membeli barang yang tak pernah ia lihat. Vicki bingung harus mengatakan apa. Sementara temannya sudah tak tahan, sampai berencana membakar semua barang-barang itu, termasuk kasur yang biasa dipakai tidur olehnya. 

Vicki akhirnya mendatangi temannya. Saat itu ia tak bisa lagi berbohong. Temannya menanyakan sambil menatap mata Vicki, benarkah apa yang jadi kecurigaannya itu? Terpaksa Vicki mengiyakan, kecurigaan temannya benar. Suaminya memang berselingkuh. Pada akhirnya mereka bercerai. Vicki memang menyesalkan apa yang terjadi, terutama akibatnya terhadap ketiga anak mereka. Sampai saat ini, Vicki terkadang merasa bersalah. Apalagi temannya baru bisa melupakan trauma itu setelah 5 tahun, di mana ia mulai membuka hatinya untuk pria lain. 

Perkawinan memang melibatkan kepercayaan. Kalau Anda tak bisa percaya pada suami atau sebaliknya, mustahil bisa bertahan lama. Jadi kalau Anda memang menikmati kehidupan perkawinan, jalani dengan sepenuh hati. Berbahagialah dengan apa yang sudah Anda miliki, bersyukurlah dengan apa yang sudah Anda lalui bersama. Jangan sampai ada orang lain yang bisa merusaknya. Dan ingat, Anda menikah dengannya sekali seumur hidup. Untuk itu, upayakan dekat dengan keluarganya. Jangan segan untuk bercerita pada mertua Anda, jangan hanya pada orangtua Anda sendiri. Berbagi perasaan dengan pasangan hidup bisa melekatkan hubungan Anda. Kalau Anda bisa saling memenuhi kebutuhan masing-masing, apalagi yang akan dicarinya?

Komentar