aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Perlukah Merahasiakan Obrolan di Grup Chat dari Pasangan?

Saturday, 31 October 2020 18:00:23 WIB | aura.co.id
Perlukah Merahasiakan Obrolan di Grup Chat dari Pasangan?
Dalam sebuah hubungan, privasi tetap sesuatu yang harus dijaga. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Hampir setiap orang yang memiliki ponsel cerdas tergabung dalam grup chat. Entah itu satu grup dengan rekan-rekan kerja, teman almamater sekolah, dan lain-lain.

Tidak jarang, bergabung dalam satu grup yang sama, menimbulkan keakraban yang lebih di antara anggotanya. Seolah apapun bisa di-share di grup dan tanpa perlu malu-malu lagi. Tidak jarang, hal-hal yang sepatutnya tidak diperbincangkan pun bisa saja terjadi.

Lantas, perlukah memberitahukan semua kepada pasangan? Akankah menimbulkan percikan-percikan konflik bila melakukannya? Psikolog klinis dewasa dari Pusat Informasi dan Konsultasi Tiga Generasi, Anna Margaretha Dauhan, kepada Aura, membagi pandangannya.

Dikatakan olehnya, bahwa semua dikembalikan lagi kepada pasangan itu sendiri. Apakah perlu memberitahukan sesuatu yang (menurut pandangan ideal Anda) tidak sepatutnya diketahui pasangan? Namun bukan artinya bermain rahasia dengan pasangan. Melainkan cukuplah menjadikannya sebagai privasi Anda. Bukan sesuatu yang penting atau perlu dibahas dengan pasangan.

Ingat, bahwa dalam sebuah hubungan, privasi tetap sesuatu yang harus dijaga.

“Hanya saja, jika ada pasangan yang tahu-tahu ingin mengintip grup yang Anda aktif di dalamnya, maka ia harus siap kalau ternyata ada sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi. Misalnya, ternyata istri bergabung di grup yang isinya kebanyakan laki-laki. Kadang ada saja jokes atau meme yang agak menyerempet ke SARA, porno, dan sejenisnya. Belum lagi misalnya, dalam grup pertemanan pasangan, ada mantan pacarnya di situ. Apakah siap dan cukup bijak bersikap bila menemui hal semacam ini?” ujar Anna.

Jika iya, maka saling terbuka tentu tidak akan menjadi masalah. “Jadi ini tergantung lagi ke kesepakatan (atau kedewasaan) masing-masing,” kata Anna.

Namun bila dirasa mengganggu atau keberatan mengenai hal-hal semacam ini, Anna menyarankan agar pasangan mendiskusikannya secara baik-baik. “Hindari memarahi atau menuduh karena tidak akan menyelesaikan masalah. Cukup sampaikan dengan jelas mengapa Anda merasa keberatan dengan tergabungnya pasangan di dalam sebuah grup. Lalu temukan kesepakatan yang dapat diterima oleh kedua belah pihak sebagai solusinya,” pungkas Anna.

Komentar