aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

3 Tipe Kepribadian yang Paling Sering Berselingkuh 

Tuesday, 27 October 2020 01:00:23 WIB | aura.co.id
3 Tipe Kepribadian yang Paling Sering Berselingkuh 
Perselingkuhan dalam perkawinan salah secara moral. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Dalam Gallup Polls, 91 persen responden melaporkan bahwa perselingkuhan dalam perkawinan salah secara moral. Sedangkan 64 persen mengatakan bahwa mereka tidak akan siap untuk memaafkan pasangan mereka jika tertangkap dalam hubungan di luar nikah.

Namun, 54 persen orang Amerika mengatakan bahwa mereka mengenal seseorang yang memiliki pasangan tidak setia. Sebuah kesimpulan menarik didapat dari hasil ini. Yakni, ada tiga tipe kepribadian yang paling sering didapati tidak setia atau selingkuh. 

1. Psikopati

Psikopati adalah kecenderungan untuk mengabaikan moral dan hak orang lain. Psikopati akan bertindak semata-mata atas nama sendiri. Para ahli tidak setuju mengenai pendapat yang mengatakan bahwa psikopati dan sosiopati cukup signifikan, sehingga istilah tersebut tidak dapat digunakan secara bergantian. Sosiopati sendiri adalah suatu kondisi gangguan kepribadian yang mengacu pada perilaku dan pola pikir anti sosial. 

Jadi secara umum, psikopati dianggap sebagai bentuk sosiopati yang lebih parah. Dimana psikopati lebih menunjukkan banyak gejala. Ciri-ciri yang dimiliki oleh psikopat dan sosiopat adalah sifat yang cenderung untuk menipu, mengabaikan adat istiadat sosial dan hak serta perasaan orang lain. Mereka juga tidak merasa menyesal atau bersalah.

Psikopati memiliki hubungan yang kuat dengan perselingkuhan dengan kemungkinan 95 persen psikopat atau sosiopat akan terlibat dengan pasangan seks lain di luar hubungan perkawinan. Psikopat cenderung memiliki jumlah pasangan seks yang lebih tinggi seumur hidupnya. 

2. Narsisis

Sebaliknya, narsisisme ditandai oleh kemewahan dan kesombongan. Narsisis percaya bahwa mereka lebih tampan, lebih pintar, lebih bugar dan lebih layak daripada pasangan mereka. Sehingga membuat mereka percaya bahwa mereka berhak untuk menipu. Mereka juga percaya bahwa mereka lebih layak dari pasangan selingkuh mereka. Hal ini mungkin mempengaruhi mereka untuk percaya bahwa mereka berhak secara khusus untuk memanfaatkan mereka demi kesenangan seksualnya sendiri.

Seorang narsisis yang percaya diri, diam-diam mereka mengalami kekhawatiran, rasa bersalah dan kecemasan yang berlebihan. Orang-orang dengan narsisis, benar-benar mencari hubungan yang cenderung jauh dan kurang menuntut secara emosional. Akibatnya mereka mencari kenyamanan dari kurang intimnya dan kurangnya komitmen dalam hubungan mereka.

Narsisis lebih permisif tentang seks dan memiliki keinginan lebih besar untuk seks bebas. Mereka juga lebih rela melakukan hubungan seks tanpa komitmen emosional. Mereka pun cenderung dominan dalam suatu hubungan dengan pasangannya.

Hubungan perkawinan yang dihasilkan dari pola ikatan awal sosiopat dan narsisis cenderung mencakup pola pemecahan masalah yang buruk, kurangnya keterampilan dalam mengatasi permasalahan, sedikit konsistensi, rendahnya rasa saling menghormati dan kemampuan komunikasi yang buruk. Selain itu, kepuasan waktu yang dihabiskan bersama, kepuasan dengan penampilan fisik dan tingkat sosial, semuanya rendah dalam pernikahan yang mengandung sosiopat dan narsisis.

3. Rasa Kesepian

Di antara 100.000 subjek sampel, rasa kesepian adalah alasan yang diberikan dalam perselingkuhan oleh 71 persen pria yang tidak setia. Selain itu, orang yang menikahi pasangan yang secara emosional tidak ada rasa atau mengalami kesulitan untuk menikmati keintiman, mungkin mendapatkan kebutuhan emosional mereka dalam perselingkuhan. Kemampuan berkomunikasi (cara pasangan berbagi informasi, pemikiran dan emosi dengan pertukaran verbal dan non-verbal) adalah salah satu area emosional yang kemungkinan berdampak pada sebuah hubungan yang tidak setia. Hal ini juga berhubungan dengan rasa memiliki dalam suatu hubungan pernikahan.

Maka tidak mengherankan jika data menunjukkan bahwa pasangan yang memiliki interaksi seksual positif yang lebih sedikit atau lebih rendah dapat berisiko tinggi dalam perselingkuhan. Begitu pula halnya dengan mereka yang memperoleh kepuasan seksual rendah. 

Dalam kasus ini, faktor yang mempengaruhi rasa kesepian yakni seperti memiliki teman atau keluarga yang berselingkuh, sehingga memiliki akses untuk menyediakan alternatif rekan untuk melakukan perselingkuhan. Selain itu, sering melihat situs web seksual juga dapat membuat mereka terlibat dalam seks di luar pernikahan.

Komentar