aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Sering Ditanya Kapan Menikah, Ini Dampak Psikologisnya Bagi Para Jomblo

Saturday, 11 January 2020 02:00:23 WIB | Redaksi
Sering Ditanya Kapan Menikah, Ini Dampak Psikologisnya Bagi Para Jomblo
Jika terlalu sering menerima pertanyaan ini, bisa jadi beban pikiran buat jomblo dan berujung stres. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Pertanyaan "kapan nikah?" tak pernah absen dilontarkan dalam acara temu keluarga. Pertanyaan yang paling ditakuti para jomlo ini bahkan menginspirasi sutradara Ody C. Harahap membuat film berjudul Kapan Kawin? pada 2015. Film ini menceritakan Dinda (Adinia Wirasti) yang menyewa pacar bayaran bernama Satrio (Reza Rahadian), karena kesal kerap ditanya soal jodoh oleh orang tuanya. Berkaca kepada film ini, apa sajakah dampak pertanyaan ini bagi para jomlo? Bagaimana pula menanggapi pertanyaan ini dengan bijak?

Menurut psikolog klinis dewasa dari Q Consulting, Rena Masri, pertanyaan "kapan nikah?" akan memunculkan reaksi positif dan negatif. Reaksi positif ditandai dengan sikap tak ambil pusing pihak yang ditanyai. Sedangkan, reaksi negatif biasanya ditandai dengan emosi seperti marah atau kesal. Jika terlalu sering menerima pertanyaan ini, bisa jadi beban pikiran buat jomlo dan berujung stres. "Akhirnya justru menimbulkan masalah baru, misalnya sampai mengurung diri atau tidak mau bertemu dengan keluarga," ujar Rena.

Salah satu reaksi yang ekstrem adalah kasus pembunuhan yang terjadi akhir Januari 2018 di Garut. Pelaku mengaku membunuh tetangganya karena tersinggung ditanya "kapan nikah?" Menurut Rena, pelaku mungkin kesal karena sering “diteror” pertanyaan yang sama. "Atau bisa juga si pelaku punya stres lain misalnya kurang berhasil menjalin asmara dengan wanita. Jadi ketika ada pemicu kecil seperti pertanyaan ini, pelaku langsung bereaksi," terang Rena.

Merespons dengan Bijak

Rena mengingatkan reaksi positif dan negatif akan berujung ke hasil yang sama. "Hasilnya kita tetap tidak akan tahu kapan kita akan menikah, maka kita harus lebih bijak dalam bersikap," saran dia. Jika takut tidak mampu mengendalikan emosi, Rena menganjurkan cukup membalas dengan senyum dan segera mengalihkan pembicaraan. Trik ini pas ditujukan untuk lawan bicara yang lebih tua.

Atau bisa dengan menjawab seperlunya. Contohnya, "Sebenarnya saya mau menikah tapi sekarang saya mau fokus ke karier dulu." Kalau jawaban ini justru memancing pembicaraan lebih lanjut, Rena menyarankan untuk mengungkapkan kepada lawan bicara, Anda kurang nyaman dengan pertanyaan ini. Namun di sisi lain sikap tegas ini bisa dipandang kurang sopan jika ditujukan untuk orang yang lebih tua.

Trik lain, dengan memberi jawaban yang nyeleneh atau balas bertanya, dengan nada kalem. "Kalau yang nyeleneh misalnya, 'Memang kenapa? Kamu mau kasih amplop berapa?' Atau bisa dengan tanya balik, 'Kamu kapan punya anak?' Itu kalau yang bertanya sudah menikah tapi belum punya anak," Rena mencontohkan. Trik bertanya balik bisa dikeluarkan ketika lawan bicara tidak bisa berkompromi walau Anda secara tegas mengungkapkan kurang nyaman dengan pertanyaan mereka. "Tujuannya supaya mereka bisa merasakan apa yang kita rasakan ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu," sambung Rena.

Meski terkesan tak ada habisnya, pertanyaan ini mungkin saja berhenti ditanyakan. Sebab, kita tak tahu pasti alasan seseorang melontarkan pertanyaan itu. "Bisa jadi pertanyaan ini muncul karena tidak ada bahan omongan. Atau memang ada niat membantu mencarikan pasangan atau membantu mengatasi trauma percintaan, misalnya. Atau dengan hanya niat meledek," papar Rena.

Jika Kita yang Bertanya

Sebaliknya, jika kita menjadi pihak yang ingin bertanya soal kapan nikah ini—bukan karena sekadar kepo, ya—bagaimana baiknya agar tidak menyinggung pihak terkait?

Kuncinya, pastikan tidak bertanya di depan umum. Usahakan pasang raut wajah dan nada suara yang santai ketika bertanya. "Insting seseorang bisa merasakan, lawan bicaranya memang tulus bertanya atau hanya ingin meledek," ucap Rena.

Setelahnya, perhatikan reaksi pihak yang ditanya. Jika dua kali ditanya tak ada respons, Rena anjurkan untuk berhenti bertanya.

Komentar