aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

5 Gejala Gangguan Kesehatan Mental yang Kerap Diabaikan

Friday, 22 November 2019 02:00:23 WIB | Rizki Adis Abeba
5 Gejala Gangguan Kesehatan Mental yang Kerap Diabaikan
Kesibukan tinggi, stres, dan berbagai persoalan hidup seringkali memicu munculnya masalah kesehatan mental. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Kesibukan tinggi, stres, dan berbagai persoalan hidup seringkali memicu munculnya masalah kesehatan mental. Kondisi ini diperparah dengan stigma negatif yang berkembang di masyarakat dan kurangnya pengetahuan tentang gejala gangguan kesehatan mental. Akibatnya, kita acapkali mengabaikan gangguan kesehatan yang satu ini.

Survei yang digagas Yayasan Kesehatan Mental di Britania Raya, Maret lalu, mengungkap fakta hanya 13 orang dari 2.290 responden yang dilaporkan hidup dengan kesehatan mental baik. Fakta lain, dua dari tiga orang mengatakan pernah mengalami masalah kesehatan mental.

Ladies, mungkin Anda merasa sehat dan baik-baik saja. Namun, bisa jadi Anda mengidap gejala gangguan kesehatan mental. Bagaimana cara mengetahuinya? Manajer informasi badan amal kesehatan mental Mind, yang berbasis di Inggris, Lucy Lyus menyebut setidaknya ada lima gejala gangguan kesehatan mental yang perlu diwaspadai. Apa saja?

Antisosial

Jika Anda tiba-tiba ingin menarik diri dari acara sosial, malas bertemu banyak orang, enggan berinteraksi dengan teman dan keluarga (yang normalnya tidak ada masalah), ini bisa jadi gejala depresi atau gangguan kepribadian paranoid. “Mengalami hari-hari yang buruk adalah wajar. Itu bagian dari kehidupan manusia. Perasaan itu akan hilang tanpa meninggalkan efek besar dalam hidup Anda. Namun jika perasaan ini berkelanjutan, sehingga Anda tidak lagi bisa menikmati hidup, itu bisa jadi salah satu gejala depresi,” Lyus menerangkan.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Bermasalah dalam konsentrasi

Jika pikiran terkena gangguan kesehatan mental, kadang sulit bagi Anda berpikir atau bicara dengan jelas. Anda juga akan sulit mengingat beberapa hal yang sebenarnya mudah atau berkonsentrasi. “Jika Anda merasa konsentrasi lebih buruk dari biasanya atau mengalami masalah seperti ketepatan waktu dan mengambil keputusan, ini mungkin tanda Anda hidup dengan masalah kesehatan mental,” Lyus menambahkan.

Sulit tidur (insomnia)

Orang dengan kecemasan berlebihan biasanya sulit tidur, mudah terjaga pada tengah malam, menggertakkan gigi ketika tidur, dan kelelahan saat bangun tidur. Sulit tidur bisa membuat kesehatan mental memburuk. Ketika sulit tidur, pikiran seseorang kacau hingga membuat halusinasi dan delusi. Inilah cikal bakal skizofrenia.

Tidak terhubung dengan keadaan sekitar

Terkena gangguan kesehatan mental seperti depresi atau stres pasca-trauma memungkinkan seseorang mengalami surealitas atau merasa terhapus dari kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, ia sulit menghubungkan diri dengan keadaan di sekitar dan orang lain. “Sebagai contoh, Anda duduk di forum rapat tapi kesulitan memahami apa yang dikatakan orang lain seolah Anda tidak berada di situ,” Lyus menukas.

Gangguan fisik

Tanda-tanda gangguan kesehatan mental tidak selalu berupa gangguan psikis. Banyak penderita anxiety (kecemasan berlebihan) mengalami gejala gemetar, keringat berlebihan, panik, sakit kepala, nyeri punggung, hingga sakit perut. Selain itu, mereka yang mengalami depresi biasanya kekurangan energi bahkan sulit mengurusi diri sendiri. Dimulai dari hal-hal sederhana seperti, kesulitan merencanakan menu makanan dan bersantap.

Jika Anda mengalami beberapa gejala di atas, jangan segan menceritakan itu kepada orang terpercaya seperti sahabat atau keluarga. Diskusikan dengan mereka untuk mencari jalan keluar. Jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapat pengobatan medis. Ingat, gangguan kesehatan mental bisa diatasi dengan mencari sumber masalah yang mengganggu pikiran.

“Selain itu, bantuan dari dokter diperlukan untuk memberikan obat antipsikosis, antidepresi, penstabil mood, dan obat anticemas. Terapi wicara juga dapat menstimulasi otak untuk menelusuri akar masalah dan mencari solusi,” urainya. Di samping perawatan profesional serta pendampingan oleh keluarga maupun lingkungan, pendalaman ilmu agama menjadi faktor penentu kesembuhan.

Komentar