aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Orang yang Pernah Selingkuh Kemungkinan Besar Mengulangi Perbuatannya?

Monday, 18 November 2019 08:00:06 WIB | Agestia Jatilarasati
Orang yang Pernah Selingkuh Kemungkinan Besar Mengulangi Perbuatannya?
Kebiasaan selingkuh dipengaruhi oleh pembentukan karakter seseorang. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Ada pepatah mengatakan, “sekali penipu tetap penipu”. Petuah ini dirasa tepat untuk menggambarkan orang yang kerap berselingkuh. Bukan tanpa alasan, ternyata orang yang pernah berselingkuh kemungkinan besar akan melakukan perselingkuhan lagi pada waktu dan kesempatan yang berbeda. Benarkah?

Menjadi Candu

Perselingkuhan menjadi masalah serius bagi pasangan yang tengah menjalani sebuah hubungan. Kabar buruknya, perilaku selingkuh bisa menyebabkan ketagihan. American Psychological Association’s di Washington DC melakukan penelitian terhadap 484 orang berusia 18-35 tahun yang menjalin hubungan selama lima tahun dan menemukan bahwa 30 persen subjek mengaku, mereka pernah berselingkuh. Bahkan lebih dari setengahnya menyatakan bahwa mereka berselingkuh kembali dalam hubungan berikutnya.

Hal ini dibenarkan oleh konselor dan terapis di Biro Konsultasi Westaria, Anggia Chrisanti. Ia menerangkan bahwa perilaku selingkuh terkait dengan persepsi individu terhadap pengalaman berselingkuh itu sendiri. Jika seseorang memiliki pengalaman berselingkuh yang menyenangkan maka timbullah persepsi bahwa selingkuh itu menyenangkan. Jika sudah demikian maka bukan tidak mungkin orang tersebut akan melakukan perselingkuhan lagi.

(Deposiphotos)
(Deposiphotos)

“Jika seseorang memiliki pengalaman berselingkuh yang menyenangkan dan dianggapnya sebagai jalan keluar dari kejenuhan dan masalahnya di dalam hubungan resmi, maka dia akan mengulangi perilaku itu lagi. Terlepas dari apakah itu tindakan yang benar atau tidak, persepsi yang berasal dari pengalaman seseorang sebelumnya turut memengaruhi perilaku (selingkuh) seseorang,” terang Anggia.

Selanjutnya, Anggia mengemukakan bahwa pengalaman positif dari berselingkuh tidak hanya memunculkan persepsi tetapi juga memunculkan hormon dopamin di dalam otak. “Ketika seseorang merasa bahagia, relaks, nyaman saat berselingkuh maka hormon dopamin atau hormon yang menyebabkan sifat kecanduan juga keluar di dalam otak,” ungkapnya.

Pengaruh Lingkungan dan Pembentukan Karakter

Beberapa orang beranggapan, jika memiliki orang tua yang berselingkuh, maka ada kemungkinan anaknya pun akan menjadi peselingkuh. Benarkah demikian? Anggia mengatakan, hal ini mungkin saja terjadi. Kegiatan selingkuh terkait dengan perilaku seseorang dan perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh karakternya. Karakter seseorang tidak serta merta terbentuk begitu saja, tetapi terbangun sejak kita masih berada dalam kandungan.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Children see, children do. Sejak di dalam kandungan, apa yang bayi alami seperti misalnya; apakah ibu dan ayah bertengkar akibat perselingkuhan, akan dirasakan oleh anak meski masih berada di dalam kandungan. Terlebih jika anak tersebut lahir dan melihat serta merasakan pengalaman perselingkuhan dari orang tua atau lingkungan terdekatnya maka itu akan dianggap sebagai sebuah perilaku bagi anak itu,” terang Anggia.

Selingkuh bisa menjadi kebiasaan dan yang namanya kebiasaan bisa melekat sejak seseorang masih berusia dini. Bagaimana menghilangkan perilaku negatif ini? Pasalnya banyak peselingkuh yang mengaku menyesali tindakannya, namun hanya sebatas bibir belaka. Tak lama berselang, ia berselingkuh lagi.

Anggia menyatakan bahwa perilaku bisa diubah lewat emosi. Menurut teori emosi, orang yang melakukan tindakan negatif umumnya didasari oleh emosi yang negatif pula. Oleh karena itu, Anggia menyarankan jika ingin membuat seseorang berhenti melakukan sesuatu maka ubahlah emosinya.

“Misalnya dengan bertanya apa yang kamu rasakan saat berselingkuh? Apa yang terjadi jika kamu berada di posisi pasangan kamu? Apakah orang tua kamu dulu pernah berselingkuh hingga membuat kamu sakit hati? Digali terus emosinya hingga emosi negatif berubah menjadi positif. Ketika emosi sudah positif maka pemahaman menjadi positif, yang mana artinya perilaku juga akan berubah positif,” saran Anggia.

(ages)

Komentar