aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Agar Persaaan Cinta Tak Berubah Menjadi Benci....   

Wednesday, 16 October 2019 15:00:23 WIB | Wida Kriswanti
Agar Persaaan Cinta Tak Berubah Menjadi Benci....   
Cinta jadi benci, begitu sering terjadi. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Cinta jadi benci, begitu sering terjadi. Terbolak-baliknya hati semudah membalik telapak tangan. Hubungan yang diawali dengan indah, bisa berakhir dengan saling memaki, mengkhianati, dan menyakiti. 

“Tentu akan tidak baik bagi semuanya,” buka Anggia Chrisanti, konselor dan terapis EFT (emotional freedom technique) plus di biro psikologi Westaria (anggiawestaria.wordpress.com). “Bagi pasangan yang telah berumah tangga, ini akan memengaruhi anak-anak, orang tua atau mertua, saudara atau  ipar dan lainnya. Belum jika terpaksa berseteru di pengadilan,” lanjutnya. 

Apa saja penyebabnya dan bagaimana mengantisipasinya, pemaparan Anggia berikut bisa membuat Anda terhindar dari cinta yang menjadi benci. 

1. Jangan “terlalu” 

  • Semua yang terlalu, (hampir) tidak pernah baik, untuk hal baik sekalipun. Ketika pasangan mengawali hubungan dengan terlalu cinta dan terlalu sayang, kecenderungannya akan menjadi “cinta buta”. Membutakan hati dan telinga dari hal-hal objektif dan rasional. 
  •  Atas nama cinta, pasangan dengan cinta buta biasanya mendobrak segala halangan dan rintangan yang seharusnya menjadi pertimbangan. Saat menjalani hidup bersama, kenyataan tak lagi dapat disembunyikan. Hal-hal yang selama ini sengaja maupun tidak sengaja ditutupi atau tertutupi, mulai terbuka dan terkuak. Beberapa pasangan bisa bertahan dan mempertahankan hubungan cukup lama, beberapa lainnya hanya seumur jagung.    

(Depoitphotos)
(Depoitphotos)

2. Objektif dan rasional

  •  Saat menyukai, kagum, tertarik, dan peduli terhadap seseorang, rasa sayang dan cinta haruslah proporsional dan dari penilaian yang objektif dan rasional. Karena siapa pun orangnya, dia hanya manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan, khilaf, dan alpa. Memberi toleransi juga tentu ada batasnya, disesuaikan dengan kemampuan kita. 
  • Jangan sekali-kali mengambil keputusan untuk mencintai (berpacaran, bertunangan, atau bahkan menikah) dalam kondisi emosional seperti baru putus hubungan percintaan, ditinggal pacar, diselingkuhi kekasih, bertengkar atau ribut dengan orang tua, dan lain-lain. Ini biasanya hanya akan menimbulkan penyesalan. Ketika emosi meningkat, hampir pasti logika tertutup. 

3. Junjung tinggi silaturahmi

  •  Hubungan kasih sayang tentu harus dibina dan dijaga, dengan siapa pun, terutama orang-orang terdekat, terkasih, dan tercinta. Di budaya Timur kita terbiasa, bahkan ketika belum ada apa-apa, sudah mengenal, berkenalan dengan orang tua atau bahkan keluarga besar, teman, sahabat pasangan. Jika telah menikah, berarti semakin banyak orang dan semakin banyak tali kasih yang terlibat, terutama bila telah mempunyai anak.   
  •  Maka, jika suatu hubungan yang awalnya cinta terpaksa berakhir, akhirilah dengan baik. Jangan saling menyakiti. Tidak ada yang “menang” dengan mengumbar kebencian. 
Komentar