aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Keraguan Menjelang Hari Pernikahan: Diabaikan atau Diikuti?

Wednesday, 9 October 2019 19:00:23 WIB | Wida Kriswanti
Keraguan Menjelang Hari Pernikahan: Diabaikan atau Diikuti?
Mendadak ragu menjelang hari pernikahan kejadian yang normal. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Kata orang-orang tua sih, mendadak ragu menjelang hari pernikahan kejadian yang normal. Dilatari perasaan khawatir akan menjalani kehidupan yang berbeda, dengan tidak lagi melajang. Biasanya, orang-orang di sekeliling calon pengantin akan memberi dukungan dan semangat, agar pelaksanaan pernikahan lancar. Mereka akan meminta calon pengantin untuk banyak-banyak berdoa dengan tidak berpikir macam-macam dan tetap meluruskan niat menjalankan prosesi perkawinan. 

Akan tetapi pernikahan sesuatu yang krusial. Kalau “keraguan” yang menghampiri calon pengantin itu sungguh-sungguh mengarah kepada “pembatalan” demi kebaikan, bagaimana sebaiknya yang dilakukan? Tentu, karena pelaksanaan pernikahan telah melibatkan banyak hal di dalamnya. Ada orang tua, calon mertua, biaya perkawinan yang telah digelontorkan, atau undangan yang telah disebar. 

“Tentang pernikahan, pada siapa pun, akan muncul keraguan. Itu wajar, karena ini langkah besar dalam kehidupan,” sebut Anggia Chrisanti Wiranto, psikolog. “Keraguan yang ditimbulkan variatif. Berbeda-beda apa yang diragukan, termasuk besar-kecilnya. Kendati demikian, keraguan pada semua orang sama, yakni berkaitan dengan keyakinan. Ketika bicara tentang keraguan, maka di sana bicara tentang keyakinan,” terangnya. 

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Anggia menyebutkan, pernikahan berkaitan dengan 3 keyakinan. Keyakinan kepada Tuhan, keyakinan kepada pasangan, dan keyakinan kepada diri sendiri. Ada kelemahan pada satu keyakinan itu, di situlah muncul keraguan. Perlu menjadi catatan khusus, poin-poin ini berlaku dalam konteks pernikahan yang dilakukan orang dewasa, yang tanpa paksaan, perjodohan, atau “kecelakaan”. 

Keyakinan kepada Tuhan

Hal ini dipupuk sejak usia dini. Oleh orangtua, lingkungan, sekolah, dan kematangan intelektual spiritual. Dalam hal pernikahan (dan juga hal lainnya), keyakinan kepada Tuhan sangat berpengaruh kuat. Antara lain meyakini pernikahan adalah ibadah, pernikahan adalah pintu keberkahan, dan juga pintu rezeki. Nilai-nilai itu akan memudahkan seseorang untuk yakin menuju pernikahan. Juga termasuk meyakini bahwa orang yang akan dinikahi adalah pilihan Tuhan. Jodoh yang telah disiapkan Tuhan untuk kita.

Manfaatnya: memiliki keyakinan ini sedikit mengurangi kekecewaan yang akan atau sudah muncul kepada calon suami/istri kita. Baik-buruknya pasangan, bagaimana pun sudah menjadi pilihan kita. 

Keyakinan kepada pasangan 

Bisa dikatakan ini hal yang utama dan prinsip. Kita harus yakin pasangan yang akan dinikahi adalah seseorang yang takut pada Tuhan dan cinta pada pasangannya (kita). Jika pasangan takut pada Tuhan, apa pun yang terjadi, dia tidak akan melanggar perintah Tuhan (poin pertama). Sedangkan cinta kepada pasangan, menitikberatkan pada kesadaran bahwa kita sama seperti dirinya. Sama-sama jauh dari sempurna. Sehingga masing-masing yakin pasangan mencintai kita untuk hal terburuk sekalipun, apakah itu datang sebelum atau kelak sesudah menikah.   

Manfaatnya: dengan kesadaran penuh, kita siap menjalani segalanya yang akan terjadi bersamanya, baik atau buruk, manis atau pahit. 

Keyakinan kepada diri sendiri

Hal ini berkaitan langsung dengan kedewasaan. Bagaimana kita memahami diri dan dari mana kita berasal (keluarga apa, seperti apa, dengan masa lalu bagaimana). Juga keyakinan kita adalah pribadi yang sehat, yang menjalani pernikahan dengan niat ibadah. 

Manfaatnya: membuat kita tahu tentang apa yang diinginkan dan apa yang dibutuhkan, baik dari pasangan maupun diri sendiri.

Jadi, ketika “keraguan” menghampiri, lakukan pemikiran dan pertimbangan berdasarkan tiga keyakinan itu. “Semakin kuat keyakinan akan ketiga hal itu, menjadi bekal bagi yang menuju pernikahan,” kata Anggia yang juga aktif sebagai terapis dan konselor di lembaga konsultasi psikologi Westaria, Bandung. Lantas, ketika hasilnya negatif dan Anda memilih untuk mengikuti “keraguan”? “Keputusan apa pun dalam kehidupan, paling salah, kalau keputusan itu karena orang lain. Kalau berdasarkan tiga poin di atas ditemukan keraguan yang sifatnya prinsipiel, batalkan saja. Karena yang akan merasakan dampak baik-buruknya, adalah kita sendiri,” imbuhnya. Malu? Manusiawi. Apalagi mungkin sudah ada pengeluaran dan pengumuman. Tetapi yakinlah, seperti pernikahan yang dilakukan, pembatalan yang dilakukan pun, seberapa lama sih orang lain akan mengingatnya? 

Komentar