aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Strategi Jitu Menghadapi 5 Tahun Pertama Pernikahan

Wednesday, 9 October 2019 03:00:23 WIB | Wida Kriswanti
Strategi Jitu Menghadapi 5 Tahun Pertama Pernikahan
5 tahun pertama pernikahan merupakan masa awal terbentuknya kehidupan baru bagi dua orang yang dipersatukan dalam pernikahan. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Banyak perbincangan tentang “5 tahun pertama pernikahan”. Katanya, rawan. Entah itu kenyataan atau mitos. Tapi, sering menjadi patokan yang kemudian membebani. 
“Karena keberadaannya yang membebani, ‘5 tahun pertama pernikahan’ membuat pelaku pernikahan menjadi tidak objektif untuk mencari tahu tentang apa, kenapa, siapa, dan bagaimana (solusi) seharusnya menghadapi 5 tahun pertama pernikahan,” Anggia Chrisanti Wiranto, konselor dan terapis EFT (emotional freedom technique) di biro psikologi Westaria, menjelaskan. “Pada dasarnya, tidak ada yang tidak mungkin. Apa yang bisa dan harus dilakukan (pelaku pernikahan) adalah dengan memiliki strategi preventif,” imbuhnya. 

Apa?

Memahami 5 tahun pertama pernikahan, Anggia menyebutkan, itu masa awal terbentuknya kehidupan baru bagi dua orang yang dipersatukan dalam pernikahan. “Hal ini berlaku kepada mereka yang apakah sebelumnya melalui masa perkenalan yang cukup lama atau sebentar. Karena apa pun yang ada dan terlihat pada masa sebelum pernikahan, akan ada perbedaan setelah pernikahan,” terang Anggia. 

Kenapa?

Anggia mengutip seorang bijak yang mengatakan, biduk pernikahan yang rawan adalah masa 5 tahun awal pernikahan, di mana laki-laki sedang berkelana dengan mimpi-mimpinya, sementara sang istri sedang belajar memahaminya. “Seringnya pasangan menikah melupakan beberapa hal kecil, sepele, tapi penting. Bahwa ketika memulainya berdua, tidak ada lagi ‘aku’ dan ‘kamu’, kecuali ‘kita’. Jadi pastikan pikiran dan perasaan,” ujar Anggia. 

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Siapa?

Pasangan yang mengalami kerawanan yang cukup parah di 5 tahun pertama pernikahan adalah mereka yang tidak berusaha belajar dan memahami hakikat pernikahan secara keseluruhan, sebelum memutuskan menikah. Karenanya, kehidupan pernikahan dijalani cenderung tanpa konsep, tanpa tujuan, trial and error, sehingga gesekan emosi yang menimbulkan konflik, stres, dan depresi sangat mudah terjadi. “Inilah cikal bakal kerawanan di 5 tahun pertama pernikahan,” ujar Anggia. 

Bagaimana?

Perbanyaklah ilmu, wawasan, pengetahuan tentang pernikahan sebelum memutuskan menikah. Lakukan pembelajaran secara menyeluruh dari sisi pengetahuan umum dan agama. Bisa didapat dari buku-buku tentang pernikahan, belajar atau bertanya kepada orang-orang yang sudah lebih dulu menjalaninya, dan lain-lain. “Kemudian lakukan persiapan fisik dan mental serta segala sesuatunya sehingga Anda bisa betul-betul menikmati setiap prosesnya (5 tahun pertama pernikahan). Bahwa setiap hari adalah belajar. Belajar menjadi baik dan lebih baik lagi dalam setiap peran dan fungsi kita dalam rumah tangga,” pungkas Anggia. J wida

Komentar