aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Tren Orang Korea Menikah Setelah Berusia 30-an Semakin Tinggi, Ini Dampaknya

Monday, 9 September 2019 21:30:23 WIB | Rizki Adis Abeba
Tren Orang Korea Menikah Setelah Berusia 30-an Semakin Tinggi, Ini Dampaknya
Korea Selatan mulai mengungkapkan keprihatinan mengenai demografi penduduk di masa depan. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Korea Selatan mulai mengungkapkan keprihatinan mengenai demografi penduduk di masa depan. Pemerintah Korsel memperkirakan bahwa populasi Korea bisa punah pada 2.750. Hal ini disebabkan oleh tingkat kelahiran yang begitu rendah di Korea, bahkan kurang dari satu anak per wanita. Diperkirakan pada tahun 2045 usia rata-rata penduduk Korsel adalah 50 tahun.

Selain dipicu faktor menurunnya keinginan individu untuk menikah dan memiliki anak, ada kekhawatiran bahwa kondisi ini akan diperparah dengan meningkatnya masalah infertilitas pada pria dan wanita Korea. Apalagi, masalah kesuburan akan semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Dan semakin meningkatnya usia rata-rata pernikahan orang Korea, kasus masalah kesuburan pada pasangan yang telah menikah pun semakin tinggi.

Belakangan semakin banyak orang Korea yang dirawat karena infertilitas. Pusat Medis Cultural Heritage Administration (CHA) di Bundang menganalisis 2.968 pasien yang dirawat karena infertilitas pada 2008 dan 2018 dan menemukan bahwa semakin banyak kasus yang terlibat penurunan fungsi ovarium.

"Penurunan fungsi ovarium berarti penurunan jumlah telur yang disimpan dalam ovarium wanita. Bahkan dengan perawatan itu tidak mudah bagi mereka untuk hamil," ungkap Kwon Hwang, salah seorang staf CHA Bundang.

Tren ini juga disebabkan oleh lebih banyak wanita yang menikah di usia 30-an. Menurut data PBB, usia rata-rata wanita Korea saat memiliki anak pertama mereka adalah 32,3, empat tahun lebih tua dari rata-rata dunia. Sedangkan fungsi ovarium wanita dikatakan semakin menurun setelah melewati usia 35.

"Seiring bertambahnya usia, semakin sulit untuk mengumpulkan telur berkualitas tinggi sehingga kemungkinan kehamilan menurun," kata Kwon Hwang. Dokter menyarankan wanita untuk menjalani tes untuk menentukan kualitas telur mereka sebelum mencapai usia 35.

(riz)

Komentar