aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

4 Langkah Membebaskan Diri dari Kecanduan Gawai

Friday, 30 August 2019 04:00:23 WIB | Wida Kriswanti
4 Langkah Membebaskan Diri dari Kecanduan Gawai
Kebutuhan sosial yang tidak jelas arahnya membuat seseorang mencandu gawai. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Banyak jurnal telah memperingatkan tentang bahaya kecanduan gawai. Mulai dari aspek kesehatan hingga psikologis, semua dikupas tuntas. Membuat semua orang sadar dan tahu pasti risikonya. Sayangnya, kebanyakan dari kita memilih untuk terus mencandu.

Samuel Veissiere, Ph.D, seorang antropolog yang menekuni masalah kesehatan jiwa, mengatakan, cara mengatasi kecanduan gawai pada setiap orang bisa jadi berbeda-beda. Mereka yang merasa kecanduan mungkin sudah melakukan beberapa cara untuk mengatasinya. Seperti memastikan gawai selalu dalam keadaan sunyi, disimpan dalam tas, meninggalkan di rumah, mengaktifkan mode pesawat, mematikan lalu menyalakannya lagi. Namun, tidak ada yang berhasil.

Anak tetap diabaikan, pasangan didiamkan, obrolan dengan teman dihentikan, ketika muncul - karena tidak harus berbunyi atau bergetar - tanda notifikasi Facebook, Instagram, Twitter atau Snapchat, yang membuat Anda merasa harus segera membukanya dan mencari tahu terkait apa notifikasi tersebut. Contoh lainnya, Anda merasa marah dan kesal saat tahu seseorang sudah membaca pesan Anda, tapi tidak langsung membalas. Saat hanya merasakan ketidakbahagiaan seperti ini, maka inilah kecanduan gawai yang nyata dan harus segera disembuhkan.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Apa yang harus dilakukan? Resep baru dari Samuel berikut mungkin bisa membantu membebaskan diri Anda dari kecanduan gawai. Langkah-langkahnya dimulai dari hal yang sangat mendasar.

- Pertama, Samuel mengajak kita semua untuk menyadari bahwa bukan teknologi yang membuat kita kecanduan. Melainkan pengakuan sosial dan keterhubungan dengan orang lain yang menjadi lebih besar berkat bantuan teknologi. Inilah yang membuat seseorang bisa merasakan kegilaan atau bahkan kerinduan.

Apakah ini salah? Samuel menegaskan, tidak. Mencandu pengakuan sosial sangat normal. Sangat manusiawi. “Paksaan untuk sesegera mungkin mengambil ponsel selalu didorong oleh keinginan mendasar untuk terhubung dengan orang-orang, kebutuhan untuk dilihat, mendengar, berpikir, diarahkan, atau bahkan diperhatikan oleh orang lain adalah ciri-ciri manusia yang juga dimiliki orang-orang pada masa lalu,” jelas Samuel. Mari syukuri hal ini.

- Kedua, kenali pola penyebab Anda menjadi kecanduan. Misalnya, Anda merasa senang ketika teman-teman langsung memberi tanda like pada foto yang Anda posting di Facebook. Merasa terpuaskan, Anda mengulangi lagi dan lagi untuk mem-posting foto. Tapi, lalu tidak ada seorang pun yang menyukai posting-an Anda berikutnya. Segera sadari, bahwa ada kemungkinan posting-an Anda memang tidak layak diberi like atau memang teman-teman bosan dengan posting-an Anda.

Maka segera ubah rutinitas mem-posting foto. Misalnya, lakukan hanya ketika ada hal yang benar-benar layak di-share atau lakukan secara berkala, dua hari sekali atau tiga hari sekali. Dan dapatkan like yang memang Anda harapkan tanpa merasa kesal atau penasaran ketika tidak ada teman yang memberikannya. Samuel menegaskan, semakin tidak terduga pola, semakin kuat keinginan yang menyebabkan candu.

- Ketiga, cari tahu siapa yang membuat Anda kecanduan. Siapa, sih orang-orang yang paling Anda harapkan untuk terhubung? Keluarga? Seseorang yang spesial? Teman kerja? Semua harus jelas, karena Anda harus segera membuat ritual dan protokol yang jelas untuk mengatasi kecanduan gawai yang sedang diidap.

Setelah tahu sumbernya, maka tinggalkan yang tidak dianggap penting. Tergabung dalam sebuah grup chat dan Anda hanya menjadi silent reader? Segera keluar, kecuali mengetahui gosip terbaru memang membuat Anda bahagia, he he he.

- Keempat, memenuhi kebutuhan sosial Anda akan menjadi sebuah solusi nyata. Samuel mengutip penulis Peter Levitt, bahwa untuk meraih kebebasan sejati adalah dengan mengatur kebutuhan hasrat, bukan meniadakannya sama sekali. Tetap miliki dan nikmati gawai Anda, tapi hanya untuk yang membuat Anda bahagia. 

Komentar