aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Dilema Ibu Bekerja: Mengutamakan Anak atau Pekerjaan?

Monday, 19 August 2019 21:30:34 WIB | Wida Kriswanti
Dilema Ibu Bekerja: Mengutamakan Anak atau Pekerjaan?
Ilustrasi (Depositphotos.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Ibu bekerja selalu mengalami dilema. Terutama ibu muda yang baru memiliki anak. Baru tiga bulan melahirkan, pekerjaan sudah memanggil kembali. Tentu secara naluri, ini tidaklah mudah.

Belum lagi kenyataan bahwa ASI adalah makanan terbaik bagi bayi. Walaupun sekarang ada dalih ASI bisa distok, ternyata bukan sekadar kandungan ASI-nya saja yang dibutuhkan bayi.

"Melainkan perilaku menyusui (memeluk dan bersentuhan kulit satu sama lain) ibu itulah yang secara keseluruhan membentuk banyak hal pada sang bayi. Kecerdasan mental, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual, itu terbentuk dan berkembang secara maksimal salah satunya melalui proses menyusui itu sendiri," papar psikolog Anggia Chrisanti Wiranto.

Lalu kenyataan bahwa komitmen terhadap pekerjaan sudah disepakati jauh sebelum kehadiran bayi, maka terjadilah konflik dalam diri ibu.

"Jadi, keduanya adalah tanggung jawab. Tentu tidak mudah untuk mengambil keputusan dengan siapa anak akan dititipkan, sementara ibu bekerja. Siapa pun itu, keluarga sekalipun, sang ibu (dan anak) sadar betul itu tetap tidak pernah sama dan sepadan," kata Anggia.

"Juga jika harus memutuskan berhenti dari pekerjaan, pasti sama sulitnya. Pekerjaan biasanya adalah pencapaian cita-cita, yang diperjuangkan melalui proses panjang (pendidikan dan lainnya). Jika harus melepasnya begitu saja, jelas bukan perkara mudah. Akhirnya ibu terombang-ambing dalam konflik besar yang nyata,"¯ imbuhnya.

Ya, sebuah masalah yang memang tidak pernah terpecahkan. “Jika tidak bisa memilih satu di antaranya, maka berdamailah dengan keduanya.

Berikut beberapa anjuran yang disampaikan Anggia: 

1. Menerima dengan ikhlas kedua tanggung jawab.

2. Persiapkan pengetahuan ketika suatu saat harus mendelegasikan salah satunya. Misalnya, kita tahu siapa teman yang sekiranya bisa dititipi pekerjaan, jika suatu hari anak sakit dan kita tidak bisa bekerja. Juga kita tahu, kepada siapa kita bisa menitipkan anak, jika mendadak ada tugas lembur atau dinas luar kota. Persiapkan obat-obatan, nomor telepon dokter, dan lainnya yang sekiranya diperlukan selama kita tidak ada.

3. Ketika menjalani salah satu di antaranya, tinggalkan¯ yang lainnya. Pepatah berkata, simpan hatimu di rumah dan simpan pekerjaanmu di kantor. Artinya, saat bekerja, fokuslah pada tugas dan tanggung jawab pekerjaan. Sehingga Anda tidak sia-sia telah keluar rumah dan meninggalkan anak. Begitupun saat pulang, tinggalkan pekerjaan di kantor. Bukan saja tidak membawa berkas dan tugas lainnya, tapi pikiran terhadap pekerjaan pun harus ditinggal.

4. Sehingga dengan sisa waktu yang ada, Anda fokus pada tugas dan tanggung jawab Anda sebagai ibu dan berprestasi di sana. Pada dasarnya, bagi perempuan, tanggung jawab utama adalah sebagai ibu dan istri. Jika Anda harus mengambil tanggung jawab di luar itu, sekali lagi pastikan tidak mengganggu tanggung jawab utama. Tidak mau, kan, anak-anak kelak lebih kangen pada pengasuhnya ketimbang Anda?

(wida / gur)

Komentar