aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Pasangan Anda Ternyata Biseksual, Adakah Kemungkinan untuk Sembuh?

Sunday, 18 August 2019 14:00:13 WIB | Wida Kriswanti
Pasangan Anda Ternyata Biseksual, Adakah Kemungkinan untuk Sembuh?
Cukup sulit menyembuhkan seseorang yang telanjur gay atau biseksual (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Mudah saja tercetus ide cerai dari pasangan yang ternyata diketahui seorang biseksual. Namun bagi sebagian orang, perceraian bukanlah solusi yang diharapkan. Tetap bertahan dan berjuang demi kelanggengan rumah tangga, apapun yang terjadi, masih menjadi prinsip yang dipegang kebanyakan orang. 

Jika ini memang pilihan Anda, sangat disarankan ketika kenyataan terkuak, untuk segera bersama - sama menghubungi psikolog atau pemuka agama. Mintalah bantuan ahli untuk mencari tahu, apakah suami yang biseksual ini merasa apa yang dilakukannya salah atau tidak, ingin sembuh atau tidak. 

"Jika suami ingin sembuh, ada baiknya Anda mendukung dalam penanganannya," buka Anggia Chrisanti, konselor dan terapis di Biro Konsultasi Psikologi Westaria. "Misalnya, dengan menemani melakukan konseling dan terapi ke psikolog dan juga ke pemuka agam, untuk kesadaran spiritualnya. Termasuk ke dokter spesials untuk meminta bantuan secara medis. Misalnya, dibantu dengan obat penahan impuls terhadap hasrat seksual menyimpang, dan sebagainya," papar Anggia Chrisanti. 

Akan tetapi perlu diingat, homoseksual atau biseksual, terbentuk karena kebiasaan maupun kejadian - kejadian tertentu pada masa kecil. Sehingga patut disadari bahwa biasanya penyimpangan ini telah terjadi sekian lama. Maka akan cenderung menetap. 

"Kalaupun ingin diubah, membutuhkan usaha yang sangat keras, sungguh - sungguh, dan secara menyeluruh. Poin pentingnya adalah, harus ada keinginan dari yang bersangkutan untuk keluar dari penyimpangan perilaku tersebut," kata Anggia Chrisanti. 

Namun apabila dari pasangan terindikasi tidak mau mengubah dirinya (tidak mau sembuh), maka mulailah merencanakan solusi, semisal bercerai. Termasuk menjaga jarak antara anak - anak dengan ayahnya. Karena perilaku penderita amat mudah ditiru oleh anak - anak yang masih belum matang cara berpikirnya.

Kemudian jangan lupa lakukan self healing agar tidak merasa bersalah kepada diri sendiri.

"Ikhlas dan terima kenyataan ini. Bersiap membicarakan dengan keluarga besar tentang yang terjadi dan solusi - solusi yang akan diambil. Karena masalah ini cukup besar, sangat dibutuhkan dukungan yang kuat dari keluarga besar agar Anda tidak merasa sendirian menghadapinya," pungkas Anggia Chrisanti. 

(wida) 

Komentar