aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Jika Ibu Bekerja Terpaksa Lembur, Bagaimana Mengaturnya?

Thursday, 15 August 2019 02:00:14 WIB | Rizki Adis Abeba
Jika Ibu Bekerja Terpaksa Lembur, Bagaimana Mengaturnya?
Ilustrasi (Depositphotos.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Sesekali lembur tak masalah. Malah kadang memberi keuntungan, karena menambah pemasukan ekstra. Namun bagaimana jika seorang ibu bekerja sering lembur dan meninggalkan anak hingga malam?

Kekhawatiran renggangnya ikatan batin dengan buah hati karena kurangnya intensitas bertemu, tentu  menjadi pemicu dilema. Menghadapi situasi ini, para ibu bekerja diwajibkan pandai mengelola waktu demi keseimbangan menjalani peran sebagai wanita karier dan ibu. Jika intensitas lembur meningkat dan dirasa mengganggu hubungan Anda dengan buah hati, mungkin ada beberapa hal yang patut Anda pertimbangkan kembali.

Mana prioritas utama?

Ketika waktu Anda tersita kegiatan di kantor sehingga membuat intensitas pertemuan dengan anak sangat kurang, ada baiknya Anda tinjau kembali prioritas hidup Anda. Jika mengasuh dan mendidik anak-anak Anda menjadi prioritas, mulailah berpikir untuk mencari pekerjaan dengan jam kerja yang family friendly. Sebaliknya, jika Anda yakin kuantitas pertemuan yang sedikit tak berpengaruh pada kualitas pengasuhan Anda terhadap anak-anak, pekerjaan bisa jadi prioritas utama, tentu dengan segala risiko di belakangnya.

Mengapa harus lembur?

Coba Anda renungkan kembali, apa yang membuat Anda harus sering lembur? Lembur biasanya dipicu dua hal: beban pekerjaan yang terlampau banyak atau Anda bekerja terlalu lamban. Jujurlah tentang penyebab lembur Anda selama ini. Jika masalahnya ada pada pola kerja yang terlalu lamban, mengapa tidak mengubah ritme kerja agar bisa pulang ke rumah tepat waktu. Masa iya, Anda keberatan melakukannya demi si buah hati?

Jika beban pekerjaan terlalu berat sehingga Anda terus-menerus lembur, cobalah berkomunikasi dengan atasan untuk solusinya. Katakan, beban pekerjaan Anda sudah melampaui batas kemampuan dan Anda butuh partner kerja. Jika dikomunikasikan dengan baik, masalah pasti teratasi, kok.
Bagaimana menjaga hubungan dengan anak?

Semestinya, jika sudah berkomitmen menjalani dua pekerjaan, kantoran dan rumah tangga, sekaligus, tak boleh ada salah satu yang mendominasi. Keduanya harus berjalan seimbang. Bahkan ketika intensitas pertemuan dengan anak sangat minim, Anda harus tetap menjalankan peran sebagai ibu, tanpa halangan jarak.

Bagaimana caranya?

- Manfaatkan teknologi. Dengan kecanggihan ponsel, internet, dan berbagai aplikasi komunikasi, rasanya jarak bukan lagi penghalang untuk tetap berkomnikasi dengan anak. Lakukan komunikasi intens setiap hari untuk memantau kondisi dan kegiatan anak selagi Anda di kantor.

- Percayakan anak pada pengasuh yang tepat. Sebaik-baiknya pengasuh adalah keluarganya sendiri. Jika Anda harus bekerja, upayakan tetap ada anggota keluarga yang menjaga si kecil.

- Jika memungkinkan, aturlah waktu lembur Anda dengan suami. Jangan sampai Anda berdua lembur di waktu berbarengan. Jika Anda tak bisa pulang tepat waktu, paling tidak anak-anak tak gelisah karena sudah ada ayah yang menemani malam hari di rumah.

- Maksimalkan quality time. Mungkin Anda bertemu buah hati di rumah hanya beberapa jam di luar jam tidur. Tapi waktu yang singkat bukan berarti tidak berkualitas. Di sini dituntut kepiawaian Anda menjaga ikatan emosional dengan si kecil, dalam waktu pertemuan yang singkat. Tunjukkan, meski tak bisa sering bertemu dengannya, Anda tetaplah orang tua yang bisa diandalkan dan selalu dirindukan.

- Pisahkan urusan pekerjaan dan rumah. Di kantor, Anda boleh tampil prima sebagai karyawan terbaik, paling rajin, paling disegani, atau apa pun itu. Tapi tanggalkan semuanya ketika kembali ke rumah. Di rumah, kembalilah kepada peran Anda sebagai sosok ibu yang mengayomi dan melindungi anak-anak. Upayakan agar tak membawa pekerjaan kantor ke rumah hingga anak merasa dinomorduakan.

Komentar