aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Bagaimana Membedakan antara Nepotisme atau Networking?

Wednesday, 14 August 2019 07:00:50 WIB | Rizki Adis Abeba
Bagaimana Membedakan antara Nepotisme atau Networking?
Ilustrasi (Depositphotos.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Untuk para fresh graduate atau lulusan baru, masuk ke dunia kerja adalah perjuangan yang penuh tantangan. Mereka harus bersaing dengan lulusan lain. Selain kemampuan mumpuni di bidang keahlian masing-masing, jaringan atau networking yang baik menentukan perjalanan karier seseorang.

Saat banyak ahli karier menganjurkan agar kita memperluas networking atau jaringan pergaulan di dunia kerja, Anda mungkin pernah dihadapkan pada ambiguitas antara networking dan nepotisme.

Terkadang orang menganggap networking tak ubahnya praktik nepotisme. Asal punya kenalan orang dalam, pekerjaan di perusahaan apa pun gampang didapat.

"Jelas ada perbedaan antara nepotisme dan networking," tambah Nancy Irwin, ahli hipnoterapi dan pemilik klinik psikologi di Los Angeles.

"Dengan nepotisme, Anda diberi kesempatan bekerja dengan alasan hubungan pribadi. Tapi networking, Anda membuat dan membangun jaringan pergaulan sosial sendiri. Dari situ, Anda mendapatkan informasi dan kesempatan-kesempatan tertentu. Networking jelas lebih sehat secara psikologis untuk semua pihak yang berkaitan, karena itu terbangun dari nilai bukan perasaan. Networking bukan jalan pintas. Butuh waktu dan prosesnya harus diatur sedemikian rupa. Tapi ini salah satu cara paling efektif dalam pencarian kerja. Sedangkan nepotisme hanyalah jalan pintas untuk mempercepat proses pencarian kerja," imbuh Nancy panjang.

Mungkin secara teori Anda mengetahui apa beda nepotisme dan networking. Tapi bisa jadi tanpa disadari Anda pernah melakukan praktek nepotisme. Bagaimana membedakan nepotisme dengan networking? Kira-kira begini contohnya:

- Anda mendapat informasi dari senior atau keluarga, ada perusahaan yang membutuhkan karyawan dengan spesifikasi tertentu. Anda merasa cocok dengan kualifikasi yang dibutuhkan, lalu melamar dan melewati proses penyeleksian -> Networking.

- Setelah memasukkan surat lamaran di sebuah perusahaan, Anda menghubungi keluarga atau senior yang sudah terlebih dahulu bekerja di perusahaan itu. Tiba-tiba Anda diterima bekerja di posisi yang Anda inginkan tanpa proses seleksi -> Nepotisme.

- Anda menitipkan CV dan surat lamaran kepada keluarga atau teman di sebuah perusahaan. Teman atau keluarga Anda meletakkannya di meja HRD, tanpa pesan khusus -> Networking.

- Ayah Anda pemilik bisnis restoran. Sejak kecil, Anda tertarik dengan dunia pengolahan kuliner dan mengenyam pendidikan kuliner. Setelah lulus kuliah, Anda langsung ditempatkan sebagai koki di restorannya -> Networking.

- Ayah Anda pemilik bisnis restoran. Sejak kecil Anda sama sekali tak menaruh minat pada bisnis yang digeluti. Anda lebih tertarik dengan dunia seni. Setelah lulus, Anda diminta menjadi kepala administrasi restoran ayah Anda -> Nepotisme.

- Anda bekerja di perusahaan milik kerabat jauh ayah Anda. Prestasi kerja biasa-biasa saja. Ketika ada promosi jabatan, Anda mendapat promosi, sama dengan rekan kerja yang lebih berbakat dan antusias -> Nepotisme.

dari Berbagai Sumber

(riz / gur)

Komentar