aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Agar Ketidakcocokan dalam Rumah Tangga Tak Berujung pada Perceraian

Wednesday, 17 July 2019 02:00:23 WIB | Yuriantin
Agar Ketidakcocokan dalam Rumah Tangga Tak Berujung pada Perceraian
Setiap pasangan juga harus sadar tidak ada orang yang benar-benar cocok.(Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Perbedaan prinsip dan ketidakcocokan kerap menjadi alasan pasangan suami istri untuk mengakhiri sebuah perkawinan. Namun tidak sedikit yang bertanya, mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah perpisahan satu-satunya solusi?

Menurut psikolog keluarga Ajeng Raviando dari Teman Hati Konseling, fenomena ini bisa saja terjadi akibat individu kurang mengenal karakter dirinya sendiri dan pasangan sebelum menikah sehingga kebutuhan pribadi dan pasangan tidak terpenuhi. "Masing-masing pihak kurang mempersiapkan kematangan diri dan baru menyadari ketidakcocokkan (setelah menikah). Padahal menikah itu butuh kematangan psikologis," terang Ajeng. Solusinya, setiap pasangan harus punya kemampuan mengomunikasikan kebutuhannya masing-masing.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Menghadapi Perubahan

Sebelum mengomunikasikan kebutuhan diri, pasangan harus menyadari kelebihan dan kekurangan diri dan pasangannya. Ajeng mencontohkan, terkadang suatu kualitas yang awalnya dianggap sebagai kelebihan pasangan justru menjadi kekurangan setelah menikah. "Misalnya, pasangan Anda sangat perhatian ketika pacaran, sering nanya sudah makan belum dan lainnya. Setelah menikah, sikap perhatian ini dirasa malah mengganggu," ujar Ajeng.

Perubahan peran dalam rumah tangga juga bisa memicu konflik. Contohnya, pasangan yang berjiwa petualang. Ketika punya anak, perannya bertambah menjadi seorang ayah atau ibu. Maka kualitas yang dimilikinya harus ikut berubah. Menurut Ajeng, berbagai perubahan ini wajib disadari dan diterima masing-masing pihak. "Terkadang salah satu pihak merasa pasangannya telah berubah dan tidak sama seperti sebelumnya. Tapi memang sepanjang hubungan justru orang itu terus berubah," papar Ajeng.

Setiap pasangan juga harus sadar tidak ada orang yang benar-benar cocok. Dengan begitu, toleransi dalam hubungan dibutuhkan. Artinya, menyadari kebutuhan pasangan dan mengesampingkan ego diri sendiri. Setelah itu, melakukan kompromi dengan mempertimbangkan kebutuhan masing-masing. "Ketika berkonflik, ingat pasangan itu kita yang milih sendiri, ada rasa tanggung jawab atas pilihan kita sendiri," ucap Ajeng.

Pertengkaran Sehat

Konflik kerap dipandang negatif dalam sebuah hubungan. Namun Ajeng mengingatkan konflik tidak selamanya buruk. Justru lewat konflik, individu akan mengetahui kebutuhan pasangannya asalkan pertengkaran yang terjadi adalah pertengkaran yang sehat.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Pertengkaran sehat terjadi ketika pasangan saling mengemukakan pendapat dan masing-masing punya solusi untuk menyelesaikan konflik. Kedua belah pihak harus dalam posisi menang atau win-win solution. Sebaliknya, pertengkaran yang tidak sehat umumnya tidak berujung dengan solusi dan kompromi. Akibatnya, konflik akan terus berulang. Ajeng berpendapat frekuensi pertengkaran dalam rumah tangga belum tentu menandakan sebuah hubungan pernikahan tidak sehat.

Selama konfliknya terpecahkan, kuantitas pertengkaran dalam hubungan nantinya akan berkurang dengan sendirinya. Lantas bagaimana dengan pasangan yang tidak pernah bertengkar? Ada sifat pasangan yang suka memendam, kata Ajeng. Atau salah satu pihak tidak mengerti hal itu masalah bagi pasangannya. Lagi-lagi, kuncinya terletak pada komunikasi antarpasangan dan kepekaan masing-masing pihak.

"Solusinya, cobalah baca bahasa tubuh pasangan yang terlihat, misalnya tidak suka dengan satu hal coba tanyakan apa permasalahannya," imbuh Ajeng. Meski saling mengenal karakter pasangan, komunikasi tetap yang utama. "Karena manusia itu, kan dinamis. Kita tidak bisa tahu persis karakter seseorang," tegas Ajeng.

(yuri)

Komentar