aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

6 Cara Mengatasi Kecanduan Belanja Daring

Tuesday, 16 July 2019 23:00:23 WIB | Rizki Adis Abeba
6 Cara Mengatasi Kecanduan Belanja Daring
Hati-hati, jika kebablasan, Anda bisa terjebak menjadi pencandu belanja daring. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Berapa banyak akun toko daring yang Anda ikuti di Instagram atau media sosial lainnya? Berapa sering Anda berbelanja sesuatu lewat internet? Kemudahan mengakses internet melahirkan fenomena baru, maraknya belanja daring. Kemudahan yang ditawarkan toko daring membuat godaan berbelanja semakin besar. Hati-hati, jika kebablasan, Anda bisa terjebak menjadi pencandu belanja daring.

Kecanduan belanja daring adalah problem nyata. “Hal ini terjadi ketika seseorang menghabiskan terlalu banyak waktu, energi, dan uang untuk berbelanja – atau bahkan hanya berpikir tentang belanja – yang dapat merusak hidup secara serius,” urai April Benson, PhD, psikolog spesialis gangguan perilaku gila belanja sekaligus penulis buku To Buy or Not to Buy, yang berdomisili di New York, AS.

Kecanduan belanja ini tidak hanya memengaruhi kehidupan pribadi, bahkan dapat mengganggu keharmonisan rumah tangga juga hubungan dengan keluarga, teman, sampai rekan kerja. “Bisa karena Anda menghabiskan 2 jam istirahat siang untuk berselancar di laman eBay atau bahkan dipecat karena belanja daring seharian alih-alih bekerja,” kata Benson.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Mengapa belanja menyebabkan kecanduan? “Belanja dapat menstimulasi hormon yang memberikan perasaan senang di otak,” jelas Benson. Belanja juga bisa menjadi kegiatan untuk mengalihkan rasa bosan, kesepian, dan stres. “Belanja daring jauh lebih mudah membuat seseorang menjadi pencandu,” imbuh Benson. Ketidaksadaran masyarakat akan bahaya kecanduan belanja daring membuat angka kecanduan semakin tinggi. “Data menyebutkan 5,8 persen populasi di dunia bisa dikatakan sebagai pembeli kompulsif,” beri tahu Benson. “Ini semakin lazim karena transaksi jual beli daring semakin populer.” Lantas, bagaimana agar kebiasaan belanja daring tidak berlanjut menjadi candu? Trik-trik berikut bisa membantu Anda.

1. Berhentilah berlangganan iklan daring

Ketika Anda berlangganan dengan memilih menu subscribe, laman belanja akan mengirimkan iklan secara berkala ke surel Anda. Untuk menghindari godaan membuka laman belanja, berhentilah berlangganan dengan mengklik menu unsubscribe. Atau Anda bisa menandai surel-surel itu sebagai “spam” atau “trash” agar tidak mudah terbaca di kotak masuk surel Anda.

2. Blokir akses internet ke laman belanja favorit

Jika Anda terlalu mudah tergoda membuka laman belanja daring, beranikan diri memblokir laman-laman dan akun-akun belanja di medsos.

3. Hapus aplikasi belanja daring dari ponsel Anda

Aplikasi belanja daring biasa menawarkan voucer atau potongan harga untuk setiap pengunduh aplikasinya. Ini godaan berat. Namun percayalah, jika Anda mengunduh lalu ketagihan belanja, nilai voucer atau diskon yang Anda dapatkan di awal tidak akan sebanding dengan nilai belanja Anda berikutnya.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

4. Temukan akar masalah

Penelitian Sekolah Bisnis Universitas Michigan pada 2013 mengemukakan fakta, berbelanja dan memilih-milih barang dapat mengurangi rasa sedih dan stres. Namun ingat, belanja hanya mengalihkan dan sifat kesenangannya sesaat. Yang penting dilakukan, menemukan akar masalah (yang membuat Anda sedih atau stres) lalu mencari solusinya.

5. Buat batasan pribadi

Ada orang yang membatasi jumlah pengeluaran berdasarkan limit kartu kredit, ada yang menerapkan sistem pembagian uang belanja menggunakan amplop (uang digunakan sesuai kebutuhan yang tertera di amplop), ada pula yang membuat batasan harga barang tertinggi yang boleh dibeli. Entah Anda lebih cocok dengan metode mana, yang jelas disiplin dan berkomitmen pada pilihan Anda.

6. Mintalah bantuan ahli

Pendiri laman konsultasi keuangan moneysmartlatina.com, Athena Lent, pernah mengalami kecanduan belanja ketika remaja dan baru sembuh setelah melalui terapi dan pengobatan. “Ketika saya menemukan titik masalah dan mencari bantuan, yang mencakup terapi dan medikasi untuk menyembuhkan kecemasan dan depresi, keadaan menjadi lebih baik,” ungkap Athena.

(riz/bin)

Komentar