aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Aturan Main Mengundang Mantan di Hari Pernikahan

Tuesday, 9 July 2019 20:00:23 WIB | Yuriantin
Aturan Main Mengundang Mantan di Hari Pernikahan
Tidak ada kewajiban mengundang mantan di hari pernikahan. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Keluarga, teman kantor, kerabat, teman sekolah lumrah masuk dalam daftar tamu undangan pernikahan. Namun bagaimana dengan mantan kekasih, haruskah diundang juga? Jika ingin mengundang mantan, Pingkan Cynthia Belinda Rumondor, psikolog klinis dewasa mengingatkan untuk memikirkan baik-baik tiga hal. Yang pertama, alasan mengundang.

"Bila ada pikiran membuat mantan cemburu atau membalas mantan, tanyakan kepada diri sendiri, sampai kapan mau memikirkan mantan? Kalau ada hal yang 'belum selesai' dalam diri Anda terkait dengan mantan, ada baiknya selesaikan sebelum menikah," terang dosen dan psikolog klinis di Klinik Jurusan Psikologi Universitas Bina Nusantara ini.

Posisi mantan juga perlu jadi pertimbangan. Misalnya mantan adalah teman sekantor atau teman kuliah dan Anda merasa perlu mengundangnya sebagai teman, sah-sah saja. Asalkan Anda memberitahukan hal ini kepada calon suami/istri dan tidak mengharapkan atau memikirkan kedatangan mantan. "Ingat, saat ini ia hanya teman kantor/kuliah," ucap Pingkan. Yang tak kalah penting adalah perasaan dan persetujuan pasangan ketika Anda ingin mengundang mantan.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Fase Putus Cinta

Lantas kapan tidak dianjurkan mengundang mantan di hari pernikahan? Yaitu ketika jeda waktu putus dengan sang mantan baru sebentar. Pasalnya, seseorang yang putus cinta akan melewati lima tahap sebelum move on.

Pertama adalah tahap denial yang ditandai dengan penyangkalan status hubungan yang telah usai dan harapan hubungan asmara yang kandas akan kembali terjalin. Setelahnya anger, yang diikuti dengan rasa marah terhadap mantan atau orang di sekitar. Kemudian tahap bargaining yang dibarengi dengan tekad akan berubah kalau hubungan asmara dengan mantan kembali terjalin. Selanjutnya, depresi di mana muncul perasaan kosong. Yang terakhir tahap acceptance, yaitu bisa menerima kenyataan hubungan asmara memang telah berakhir.

Kata Pingkan, lamanya fase ini tidak menentu, tergantung pada lamanya pacaran dan seberapa penting makna hubungan asmara yang dijalani. Meski umumnya terjadi secara berurutan, mereka yang putus cinta bisa mengalami sebuah tahap berulang kali. Misalnya dari tahap tiga, kembali lagi ke tahap satu atau dari tahap empat kembali lagi ke tahapan satu.

"Kalau baru putus sebentar (dan akhirnya menikah dengan orang lain), sebaiknya tidak mengundang mantan. Harus mengecek lagi apa motif untuk mengundang mantan, dilihat dari tahap-tahap itu itu," imbuh psikolog lulusan Universitas Indonesia ini.

Selain itu, Pingkan mengingatkan tidak ada kewajiban mengundang mantan di hari pernikahan. "Secara psikologis, sebetulnya tidak ada kewajiban kecuali mantan suami/istri dan (dari hubungan dengan mantan suami/istri) punya anak karena adanya hubungan keluarga. Itu pun harus dengan pertimbangan keluarga besar," ungkap dia. Jika timbul rasa tidak sreg karena tidak mengundang mantan atau muncul pertanyaan apakah harus mengundang mantan, penyebabnya kemungkinan ada keraguan—masih ada isu yang belum selesai dengan mantan atau ada tekanan sosial misalnya dari teman yang mendorong untuk mengundang mantan.

Sebaliknya, bagaimana bila Anda diundang ke pernikahan mantan? Terserah kepada Anda. "Jika merasa santai, silakan datang. Akan lebih baik jika datang bersama teman-teman Anda dan bersikap biasa," anjur penulis buku Bukan Move On Biasa: Bikin Langkahmu Lebih Bermakna ini.

(yuri)

Komentar