aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Ketika Mantan Terus Memata-matai, Apa yang Harus Dilakukan?

Wednesday, 26 June 2019 22:45:23 WIB | Agestia Jatilarasati
Ketika Mantan Terus Memata-matai, Apa yang Harus Dilakukan?
Dimata-matai mantan jelas bukan hal yang menyenangkan. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Saat cinta tidak bisa diselamatkan, perpisahan menjadi jurang yang harus diseberangi. Bagi beberapa orang, sulit untuk menerima perpisahan. Mereka tetap berusaha mencari tahu kabar dan apa kegiatan sang mantan. Saat menguntit dirasa tak cukup, mereka nekat muncul di tempat-tempat mantan beraktivitas. Dimata-matai mantan jelas bukan hal yang menyenangkan. Kalau aksi memata-matai sudah melampaui batas, apa yang harus dilakukan?

Mantan Menjadi Penguntit

CEO Haven, sebuah perusahaan nirlaba yang bergerak di bidang pemberian bantuan untuk korban kekerasan dalam rumah tangga di Oakland, AS, Beth Morrison mengatakan, dalam beberapa kasus, menguntit memiliki potensi bahaya bahkan mematikan.

“Bagi beberapa orang, dimata-matai (khususnya oleh mantan) tampak tidak berbahaya. Mungkin Anda menilai mantan memata-matai karena gigih memperjuangkan cinta meski perasaan Anda telah berakhir. Sebenarnya, Anda patut waspada. Menguntit berkaitan dengan pengontrolan diri. Penguntit akan mengerahkan keinginan dan niat terhadap target tanpa menghargai apa yang diinginkan target,” beri tahu Beth.

Awalnya, si penguntit hanya memperhatikan dari jauh atau sekadar menanyakan kabar. Ketika target terlihat bisa bangkit dari kandasnya hubungan (apalagi sudah memiliki pasangan baru), saat itulah kegiatan memata-matai berubah menjadi ancaman kekerasan baik psikis maupun fisik. Dalam beberapa kasus, mantan yang menjelma menjadi penguntit tidak lagi mengenal batas mana yang boleh dilakukan dan yang tidak. Yang penting, menemukan jalan untuk mencapai tujuan.

“Seiring waktu, penguntit semakin tidak terkendali. Mereka kemudian memutuskan untuk mengambil kendali atas si target. Ancaman kekerasan sangat mungkin terjadi,” Beth mewanti-wanti. Karenanya, dibutuhkan penanganan yang tepat jika Anda dimata-matai mantan. Bisa jadi, aksi mantan itu bukan ekspresi rasa rindu semata.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

3 Langkah Menangkal Mantan

Apakah Anda sedang dimata-matai mantan? Jika ya, Presiden Asosiasi Penanganan Ancaman Profesional di San Diego, AS, Wendy L. Patrick, PhD menyebut beberapa strategi untuk menangkis mantan yang berubah menjadi penguntit.

- Ubah Rutinitas Anda

Mantan tentu sudah mengetahui kegiatan Anda sehari-hari. Karenanya, Wendy menyarankan Anda untuk mengubah rutinitas sehingga ia tidak akan menemukan Anda. “Misalnya, dengan memajukan jadwal berangkat ke kantor atau mengubahnya setiap dua atau tiga hari sekali. Ubah pula jadwal olah raga Anda. Sebisa mungkin buat jadwal kegiatan baru yang tidak mudah ditebak polanya,” Wendy memberi saran.

- Jangan Terlalu Sering Membarui Status di Medsos

Jangan salahkan mantan jika ia dengan mudah mengetahui kegiatan Anda. Bisa jadi, Anda sendiri yang membuka akses informasi buat mantan. “Beberapa korban menjadi sasaran empuk karena mereka mengumumkan setiap kegiatan di medsos. Karenanya, jangan mengunggah hal-hal yang dapat membuat si penguntit tahu kapan dan di mana Anda berada. Boleh saja membarui status di medsos, tapi jangan terlalu sering. Sebisa mungkin jangan langsung update ketika berada di sebuah tempat tertentu karena bisa jadi dia akan menyusul,” imbau dia.

- Jangan Goyah

Serangan penguntit yang paling umum ditemui adalah serbuan panggilan telepon atau pesan. Di sinilah kesabaran Anda diuji. Mengabaikan 29 panggilan telepon atau pesan lalu merespons panggilan dan pesan berikutnya dengan maksud menghentikan langkah pelaku, itu keliru. Dengan melakukannya, Anda mengajarkan kepada penguntit bahwa dibutuhkan setidaknya 30 kali percobaan untuk menghubungi Anda. “Jawaban terbaik untuk para penguntit adalah jangan menjawab panggilan atau pesannya sama sekali. Ketika para penguntit mengancam Anda karena terus diabaikan, jangan goyah atau bersikap baik. Hal itu hanya memberi keyakinan delusional kepada mereka. Cara terbaik yakni menceritakan ke sahabat atau keluarga yang dapat membantu dan laporkan ke pihak berwajib,” Wendy mengakhiri perbincangan.

(ages)

Komentar