aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Tak Masuk Kerja dengan Alasan Sakit? Begini Etikanya!

Sunday, 9 June 2019 08:00:33 WIB | Rizki Adis Abeba
Tak Masuk Kerja dengan Alasan Sakit? Begini Etikanya!
ilustrasi (depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Survei yang digagas CareerBuilder.com menyatakan, 72 persen pekerja di Amerika tetap bekerja meski sedang sakit. Alasannya? Perasaan bersalah ketika meninggalkan pekerjaan.

Lebih dari separuh pekerja yang mengikuti survei mengatakan, mereka merasa bersalah ketika meminta izin tidak masuk karena sakit, apalagi penyakitnya "hanya" flu.

Bekerja di rumah atau tak bekerja sama sekali?

Ketika Anda terserang penyakit menular –meski hanya flu—tetaplah di rumah. Jika merasa masih cukup kuat bekerja, kerjakan pekerjaan Anda dari rumah. Perkembangan teknologi semestinya sudah cukup membantu Anda bekerja dengan lebih fleksibel. Anda hanya butuh komputer atau laptop dan koneksi internet. Beberapa pekerjaan mungkin bisa dikerjakan di rumah dan dikirim via surat elektronik.
    
Ceritanya lain bila kondisi tubuh Anda benar-benar lemah dan tak kuat melakukan aktivitas fisik dan berpikir. Menjauhlah dari komputer dan pekerjaan. Memaksakan diri bekerja di kala sakit sama sekali bukan pilihan bijak. Kondisi kesehatan kemungkinan memburuk, pekerjaan belum tentu teratasi dengan baik.

"Kualitas pekerjaan bisa memburuk ketika pekerja mengerjakannya dalam kondisi sakit. Terkadang, lebih baik menghabiskan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan dengan benar daripada mengerjakannya buru-buru tetapi hasilnya buruk," kata Peter Handal, CEO perusahaan pelatihan internasional Dale Carnegie Training.

"Jika seorang atasan mengetahui kualitas kerja (pegawai) mereka berpengaruh negatif selama sakit, sebaiknya semua pihak yang terkait memberikan izin sakit," imbuhnya.

Bagaimana etika tak masuk kerja?

Sepertinya enak, istirahat di rumah dan meninggalkan pekerjaan untuk sementara.

Namun, siapa bilang Anda boleh benar-benar melupakan urusan kerja selama sakit? Ketika Anda terpaksa meninggalkan pekerjaan karena sakit, ada etika-etika yang tak boleh diabaikan. Jangan sampai, absennya Anda merepotkan satu kantor. Apa saja yang harus dilakukan ketika Anda tak masuk kerja?

Beri kabar
    
Berikan kabar kepada orang-orang di kantor, terutama pihak personalia, atasan, dan orang-orang yang terkait dengan pekerjaan Anda sesegera mungkin. Jangan menunda-nunda memberi kabar, karena akan membuat orang lain mengira Anda hanya terlambat sehingga tak ada yang berkonsentrasi mengambil alih pekerjaan Anda. Tidak memberi kabar ketika tidak masuk kerja merupakan tindakan yang sangat buruk dan kejam, karena merepotkan banyak orang.

Tetaplah tersedia
    
Bisa jadi hari itu Anda sudah membuat janji pertemuan atau rapat penting dengan atasan atau klien. Meski telah menyerahkan tugas-tugas kepada orang yang dipercaya, pastikan Anda bersedia dan bisa dihubungi dalam keadaan darurat. Bukan maksud mengganggu istirahat Anda, tapi mungkin ada hal-hal yang hanya bisa dijelaskan oleh Anda.

Bertanggung jawab

Jangan hanya menunggu dihubungi. Jika dirasa masih sanggup, cobalah menghubungi orang kantor untuk menanyakan apakah semua pekerjaan berjalan baik dan tidak ada masalah. Sore hari menjelang jam kerja usai, sempatkan lagi bertanya apakah semua berjalan lancar dan tidak ada masalah berarti. Kepedulian Anda terhadap pekerjaan yang Anda tinggalkan menunjukkan Anda orang yang bertanggung jawab.

Tetaplah fokus pada kesehatan

Bagaimana pun, kesehatan Anda nomor satu. Tak perlu memaksakan diri terlibat terlalu jauh dalam urusan pekerjaan jika Anda benar-benar tak kuat lagi. Terkadang perasaan gelisah meninggalkan pekerjaan kantor disebabkan Anda tidak percaya dengan orang lain yang menanganinya. Ini saatnya Anda belajar memercayai orang lain. Semoga lekas sembuh!

AURA.CO.ID

Komentar