aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Hati-hati, Pertengkaran Rumah Tangga Bisa Berakibat Buruk Pada Kesehatan, Lo!

Monday, 28 January 2019 14:15:23 WIB | Rizki Adis Abeba
Hati-hati, Pertengkaran Rumah Tangga Bisa Berakibat Buruk Pada Kesehatan, Lo!
Hubungan pernikahan yang buruk meningkatkan potensi timbulnya gangguan kesehatan fisik dan mental. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa orang yang menikah cenderung memiliki kesehatan yang lebih baik daripada mereka yang bercerai atau tidak menikah. Namun perlu diingat, hubungan pernikahan yang buruk –seperti adanya konflik tak berkesudahan, kemampuan mendengarkan yang buruk, dan adanya kekerasan—justru dapat menimbulkan efek sebaliknya. Hubungan pernikahan yang buruk justru meningkatkan potensi timbulnya gangguan kesehatan fisik dan mental.

Masalahnya bukan terletak pada cekcok antarpasangan, yang merupakan interaksi alami dalam hubungan jangka panjang seperti pernikahan. “Tapi penting bagi pasangan untuk mendiskusikan ketidaksepahaman itu,” kata Janice Kiecholt Glaser, direktur di Institut Penelitian Medis MasalahPerilaku di Universitas Negeri Ohio, Amerika Serikat, yang telah mempelajari kaitan antara penikahan dengan kesehatan manusia selama 25 tahun.

Depositphotos
Depositphotos

Dalam penelitian terbarunya, Janice Kiecholt Glaser dan timnya mengevaluasi 43 pasangan suami istri untuk melihat bagaimana ketegangan dalam rumah tangga mempengaruhi kesehatan mereka. “Kami menemukan tingkat lipopolisakarida atau pengikat protein yang menandakan kebocoran usus lebih tinggi pada pasangan yang sering bertengkar,” ungkap Janice Kiecholt Glaser.

Tidak hanya itu, dalam penelitian sebelumnya Janice Kiecholt Glaser juga menemukan kaitan antara hubungan suami-istri yang kerap dilanda pertengkaran dengan potensi munculnya penyakit-penyakit berat. “Konsekuensi utama dari pertengkaran rumah tangga adalah munculnya berbagai konsekuensi kesehatan lain seperti penyakit yang terkait dengan peradangan, depresi, penyakit kardiovaskular, sindrom gangguan metabolisme, diabetes, dan penyembuhan luka yang lambat,” Janice Kiecholt Glaser memperingatkan.

(riz/bin)

Komentar