aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Ayah, Ibu... Jadilan Teman Bicara yang Menyenangkan Bagi Anak

Saturday, 11 November 2017 23:00:44 WIB | Rizki Adis Abeba
Ayah, Ibu... Jadilan Teman Bicara yang Menyenangkan Bagi Anak
Ayah, Ibu... Jadilan Teman Bicara yang Menyenangkan Bagi Anak (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Anak yang semakin besar mulai bersosialisasi dan mulai memikirkan citra diri. Saat beranjak remaja, anak sudah tidak nyaman lagi jika terlalu sering disentuh, dipeluk, apalagi dicium orang tua.

Mereka malu dan merasa bukan anak-anak lagi. Bukan berarti intimasi dengan anak boleh dibiarkan pudar seiring bertambahnya usia buah hati. Keintiman tetap bisa dijalin. 

Caranya, mengganti sentuhan fisik dengan bentuk keintiman yang lain. Sebagai orang tua, Anda harus bisa mencari cara untuk membangun kelekatan dengan anak. Salah satunya, dengan menempatkan diri sebagai teman bicara yang menyenangkan. 

Dengan begitu, kedekatan tetap ada meski intensitas sentuhan fisik berkurang. Orang tua juga disarankan menjadi sahabat untuk teman-teman anaknya.

“Kenali mereka, buat anak nyaman membawa teman-temannya bermain di rumah sehingga kita pun mudah mengawasinya.

Silakan berkenalan dan jalinlah komunikasi yang baik dengan orang tua dari teman anak sehingga bisa saling menjaga. Jangan terlalu memaksakan diri untuk berbaur karena akan terlihat janggal dan membuat anak serta teman-temannya tidak nyaman,” Vera berbagi saran.

Pada saat tertentu, sentuhan masih dapat diterima oleh anak remaja. Misalnya, tepukan di pundak saat Anda bangga terhadap prestasi yang dicapainya. Yang perlu diingat, sentuhan kepada anak tidak hanya bisa dilakukan saat Anda senang atau gemas kepada anak. 

Berikan sentuhan untuk menunjukkan empati. Misalnya saat anak sedih karena masalah yang dihadapinya, berikan pelukan agar mereka tidak merasa sendiri. Di luar sentuhan fisik sebagai (salah satu) kunci membangun ikatan emosi, orang tua juga perlu melakukan kegiatan lain untuk mempererat hubungan batin dengan anak. 

“Misalnya, buatlah ritual makan bersama anak. Jika tidak bisa setiap hari, usahakan setiap akhir pekan. Kegiatan sederhana lain seperti mengantarkan anak tidur pada malam hari, mengucapkan selamat malam lalu memberi kecupan bisa dilakukan meski anak sudah remaja. Dibutuhkan komitmen untuk melakukannya,” pungkas Vera. 

(riz / gur)

Komentar