aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Jangan Marah ketika Si Kecil Mulai Berbohong

Saturday, 28 October 2017 16:00:24 WIB | Rizki Adis Abeba
Jangan Marah ketika Si Kecil Mulai Berbohong
Jangan Marah ketika Si Kecil Mulai Berbohong (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Suatu ketika anak balita Anda mengatakan telah menghabiskan makanannya, padahal Anda tahu ia diam-diam membuang sisa makanan.

Waktu lain, si kecil merusak mainan. Namun ketika ditanya siapa yang merusaknya, ia berkata tidak tahu.

Mendapati anak mulai berbohong, tak jarang orang tua panik, sedih, hingga marah.

Santai, Bu! Tak perlu marah kalau anak balita mulai berbohong, karena mengandung pertanda baik.

Menurut Dr. Kang Lee, profesor psikologi dari Universitas Toronto, Kanada, berbohong merupakan tahap tumbuh kembang yang penting untuk anak.

Berdasarkan hasil penelitiannya tahun lalu, 30 persen anak berusia 2 tahun sudah mulai berkata bohong dan jumlahnya terus meningkat ketika anak menginjak 7-8 tahun.

Anak yang mampu berbohong kemampuan kognitifnya lebih baik daripada yang tidak bisa mengarang cerita. Karena berbohong membutuhkan dua hal.

“Pertama, anak perlu memahami apa yang ada dalam pikiran orang lain. Kami menyebutnya theory of mind. Anak yang kemampuan membaca pikirannya lebih baik biasanya lebih pandai berbohong,” urai Lee. 

Kedua, dibutuhkan kemampuan fungsi eksekutif, yaitu kemampuan merencanakan sesuatu untuk mencegah respons yang tidak diinginkan. Anak yang berbohong mampu menebak cara orang lain merespons sebuah informasi. Mereka juga punya kemampuan menyusun kepingan-kepingan informasi menjadi sebuah cerita yang masuk akal dan mengubah reaksi orang dengan informasi baru. 

Seiring dengan itu, para peneliti dari Universitas Sheffield, Inggris, mengemukakan pandai berbohong mengindikasikan cara berpikir yang baik, mengingat kemampuan berpikir dan daya ingat dibutuhkan untuk merangkai cerita supaya terdengar logis.

“Kebanyakan orang tua tidak terlalu senang ketika anak mereka berbohong, namun setidaknya mereka harus bangga karena ketika anak bisa mengarang cerita bohong dengan baik, berarti anak telah menjadi pemikir yang baik dan berdaya ingat kuat,” kata Dr. Elena Hoicka, psikolog dari Universitas Sheffield. 

(riz / gur)

Komentar