aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Cegah Campak dan Rubela dengan Imunisasi MR

Saturday, 19 August 2017 07:00:59 WIB | Rizki Adis Abeba
Cegah Campak dan Rubela dengan Imunisasi MR
Cegah Campak dan Rubela dengan Imunisasi MR (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Dilansir Tempo.co, jumlah kasus rubela di Indonesia masih tinggi, terutama di pulau Jawa. Tahun ini tercatat ada 93 kasus rubela, itu baru di Jawa Tengah saja.

Sedangkan jumlah anak yang mendapatkan imunisasi MR masih kurang dari satu persen. Jauh dari angka ideal, yakni 95 persen.

“Tidak ada pengobatan untuk penyakit campak dan rubela, namun penyakit ini dapat dicegah. Imunisasi dengan vaksin MR adalah pencegahan terbaik,” urai Anggi.

Bayi mulai dari usia 9 bulan dan anak-anak hingga usia 15 tahun dianjurkan mendapatkan imunisasi MR yang diberikan secara gratis selama periode Agustus-September. Untuk periode pertama pada bulan Agustus, imunisasi diberikan untuk anak usia 7-15 tahun, di sekolah-sekolah. 

Sementara periode kedua, pada bulan September, imunisasi diberikan untuk bayi berusia 9 bulan hingga anak usia 7 tahun di posyandu, puskesmas, serta sarana pelayanan kesehatan lainnya.

“Pemberian vaksin ditujukan untuk pembentukan respon imunitas terhadap virus campak dan rubela,” jelas Dokter spesialis anak di rumah sakit Aulia Jakarta, dr. Dwi Miranti Anggraini, Sp. A --  akrab disapa Anggi.

Menurutnya, setelah mendapatkan vaksinasi MR pun, anak masih bisa tertular campak dan rubela. Namun tidak akan berbahaya. Berbeda dengan mereka yang sama sekali belum diimunisasi.

“Pada anak yang belum diimunisasi campak, penyakit  akan lebih berat, berlangsung lama, dan berbahaya,” imbuh Anggi. 

Vaksinasi MR tetap dianjurkan bagi anak yang sudah mendapatkan imunisasi MR sebelumnya. Akan tetapi perhatikan jarak pemberian vaksin sebelumnya.

“Jarak antara imunisasi campak pertama dan kedua minimal enam bulan karena jika diberikan kurang dari enam bulan akan terjadi netralisasi,” ungkap Anggi.

Vaksin MR tidak menyebabkan komplikasi jika diberikan pada anak dalam kondisi sehat.

“Reaksi nyeri, bengkak, merah di lokasi suntikan, dan demam adalah normal. Tunda pemberian vaksin jika anak sedang demam, batuk pilek, dan diare,” beri tahu Anggi.

Ada sebagian orang yang menolak vaksin MR karena dianggap menyebabkan autisme atau mengandung zat haram. Padahal perdebatan soal vaksin sebagai penyebab autisme hingga saat ini belum dapat dibuktikan lewat penelitian ilmiah.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia no.4 tahun 2016 pun  menyatakan bahwa pada dasarnya imunisasi diperbolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar  mewujudkan kekebalan tubuh atau imunitas, serta mencegah penyakit tertentu.

Jika tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa,  maka imunisasi hukumnya wajib.

(riz / gur)

Komentar