aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Jangan Sampai Jadi Toxic Mother, Ini 4 Dampak Terburuk yang Bisa Terjadi

Thursday, 18 March 2021 23:00:23 WIB | Wida Kriswanti
Jangan Sampai Jadi Toxic Mother, Ini 4 Dampak Terburuk yang Bisa Terjadi
Ilustrasi (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Toxic parents adalah tipe orang tua yang mengatur anak sesuai dengan kemauannya tanpa menghargai perasaan dan pendapat sang anak. Kondisi ini bisa membuat anak merasa terkekang dan ketakutan. Tak jarang, anak tumbuh menjadi pribadi yang sering menyalahkan diri sendiri dan memiliki rasa percaya diri yang rendah. 

"Akan tetapi dalam kehidupan, lebih banyak toxic mother daripada toxic father," ungkap Anggia Chrisanti Darmawan, praktisi psikologi sekaligus founder sekolah keluarga SEKAR. "Hal ini salah satunya disebabkan karena lebih banyak ibu yang turun langsung dalam interaksi pengasuhan yang intens," lanjutnya.

Karena itulah keberadaan toxic mother lebih berbahaya dibanding toxic father. Dan dampaknya kepada keluarga secara keseluruhan, terutama anak-anak. Ada pola-pola hubungan yang kemudian terbentuk secara negatif. Apa saja itu? Berikut ini seperti dituturkan Anggia.

1. Konflik Keluarga Kronis

Sang ibu cenderung memulai menjadi penyebab hubungan buruk dalam keluarga. Dari mulai perdebatan dan perselisihan sederhana, termasuk pertikaian yang cukup akut. Memanipulasi situasi antara anak dengan ayahnya dan atau anak dengan anak lainnya. Hal ini berdampak pada jatuhnya mental anak, mulai dari dampak tekanan stres, perasaan tidak aman, hingga hilangnya kelekatan anak dengan orang tua dan atau anak dengan anak-anak lainnya.

2. Rumah Tangga Patologis

Ditandai dengan terjerumusnya salah satu atau kedua orang tua ke dalam situasi gangguan mental. Misalnya obat-obatan, alkohol, atau gangguan psikologis lainnya, seperti skizofrenia atau gangguan bipolar (termasuk penyakit-penyakit berat lainnya).

Ketika ini terjadi biasanya peran anggota keluarga menjadi terbalik. Anak, yang seharusnya di bawah pengasuhan orang tua, menjadi bertanggung jawab mengurusi tugas-tugas rumah tangga, bahkan mengawasi keadaan orang tuanya. Terutama ibu menuntut agar dirinya harus selalu dijaga, disayang-sayang, dimengerti. Jika tidak, mudahlah label durhaka akan tersemat.

3. Rumah Tangga yang Kaotis

Ibu toksik menjadi penyebab rumah tangga kaotis ditandai dengan kurangnya perhatian dan pengasuhan kepada buah hati. Fokusnya adalah pada dirinya. Meskipun terlihat mengurusi anak-anaknya, sejatinya itu lebih besar bertujuan agar label ibu hebat atau ibu sempurna dapat tersematkan pada dirinya.

4. Keluarga Dominan-Submisif

Ibu toksik biasanya otoriter, keras kepala, dan submisif, tidak mengizinkan anggota keluarga lain untuk menyampaikan aspirasinya, meskipun dengan cara yang terkesan lembut. Akibatnya, anak menjadi tertekan, dibayang-bayangi dengan emosi marah dan perasan negatif kepada orang tua. Anak yang pasif dan lemah, mereka menjadi tunduk terhadap sosok yang dominan dan tidak menolak untuk dikontrol, kendati berseberangan dengan keinginan mereka (karena tergantung/dibuat tergantung.

5. Minim Kelekatan Emosi

Ibu tidak menunjukkan cinta dan afeksi kepada anaknya. Anak bertumbuh menjadi dingin dan tidak ekspresif.

Komentar