aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

3 Cara Mengajarkan Kejujuran kepada Anak

Saturday, 3 October 2020 02:00:23 WIB | aura.co.id
3 Cara Mengajarkan Kejujuran kepada Anak
Biasakan mengatakan secara jujur kepada anak. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Banyak orang sependapat tentang perlunya kejujuran dalam segala hal. Siapa sih yang tak ingin punya anak jujur? Tanpa kejujuran, anak sulit berteman, sukses dalam karier, bahkan sulit punya pernikahan yang langgeng dan bahagia. Yang terjadi, anak-anak tetap saja berbohong. 

Mengajarkan kejujuran tidak semudah membalik telapak tangan. Bagaimana mengajari anak jujur kalau Anda meminta babysitter menemani anak sementara Anda mengendap-endap pergi. Betapa pun sedihnya, biasakan mengatakan secara jujur kepada anak. Menurut Stacey Schifferdecker, ada 3 hal penting saat mengajari anak tentang pentingnya kejujuran. Penulis lepas yang juga ibu 3 anak ini tahu betul betapa sulitnya mendidik anak, terutama soal kejujuran. Tapi bukan berarti tidak bisa. 

Pertama, pastikan anak memahami, apa itu bohong dan mengapa hal itu berakibat buruk

Kalau anak tidak jujur agar terbebas dari masalah atau membuat orang lain bermasalah, berarti dia berbohong. Anak TK Anda bercerita tentang jalan-jalannya hari itu ke markas pemadam kebakaran dan melihat seekor gajah membantu tim pemadam untuk mengamankan gedung yang terbakar, dengan bantuan belalainya yang panjang. Apakah Anda percaya? Anak-anak sering kali bercerita sesuai yang didongengkan guru mereka. Tentu tanpa maksud berbohong. Bicarakan dengan anak agar ia tahu perbedaan antara bicara jujur atau hanya dongeng, dan tekankan pentingnya untuk jujur. Bagaimana pun, Anda selalu ingin tahu apa saja yang dilakukan anak Anda di sekolah, kan?

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Kedua, ciptakan atmosfer atau lingkungan yang aman dan terjaga di rumah 

Ini bisa dilakukan jika rumah "bersih", dalam arti tak dipengaruhi hal-hal buruk. Intinya, kejujuran selalu diharapkan dari setiap anggota keluarga. Umumnya anak-anak berbohong saat ketakutan. Anak memecahkan vas bunga, tapi takut dimarahi. Takut dihukum karena asyik main game ketimbang mengerjakan PR, mereka lebih baik bilang tak ada PR. Kalau Anda kelewat marah begitu tahu anak memecahkan vas bunga, secara tidak langsung Anda mendorong mereka untuk berbohong di waktu lain. Lebih baik tak kena damprat daripada mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka.

Ingat teori Newton yang mengatakan untuk setiap aksi selalu ada reaksi yang equal alias setara. Ajarkan anak memahami, konsekuensi dari setiap tindakannya pun setimpal. Memecahkan vas bunga tak bakal dapat hukuman selama sebulan, kan? Paling-paling dimarahi, tapi itu tidak mengurangi kasih sayang Anda kepadanya. Lebih penting lagi, jangan menjebak anak untuk berbohong. Maksudnya jangan memancing anak untuk mengatakan hal yang tidak benar. Misalnya kalau tahu anak Anda punya PR tapi asyik main komputer, janganlah bertanya, "Nak, apakah ada PR hari ini?" Anda toh tahu jawabannya. Lebih baik langsung bilang, "Nak, kamu tahu, kan sebaiknya jangan main komputer dulu sebelum menyelesaikan PR." Jangan lupa juga memberi penghargaan setiap kali anak bicara jujur. Kalau mendengar anak mengatakan sesuatu yang sulit, berikan pelukan tulus sebagai penghargaan atas keterusterangannya pada Anda.

Ketiga dan paling penting saat mengajarkan kejujuran adalah jujur terhadap diri sendiri

Jangan membohongi anak atau membiarkan dia mendengar Anda berbohong. Kalau anak mengajukan pertanyaan yang tak bisa Anda jawab, beri tahu dia alasannya. Lebih baik lagi jika Anda mengajak anak mencari tahu jawabannya bersama-sama. Orangtua bukanlah dewa yang maha tahu. Orangtua juga manusia yang punya kekurangan.
Apa yang harus dilakukan begitu tahu anak Anda berbohong? Respons terbaik dengan tetap menunjukkan kasih sayang. Jangan salah artikan dengan memberikan reaksi penuh kasih saat anak memberikan aksi bohong (aksi bohong = reaksi kasih sayang) -- bukan begitu. Maksudnya, bicarakan alasan mengapa anak berbohong, bagaimana kalau melakukan hal sebaliknya (bicara jujur), dan apa yang harus dilakukan agar bisa memperbaiki diri. Misalnya jika anak berbohong kepada orang lain, mereka harus minta maaf dan mengatakan hal yang sebenarnya. Selalu ada kesempatan kedua untuk terus terang dan memperbaiki diri. Membiasakan diri mengatakan maaf bukan hal yang gampang. Ucapkan dengan tulus, maka orang lain akan memaafkan dengan ikhlas.

Komentar