aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Ini yang Harus Orang Tua Lakukan Ketika Anak Remajanya Patah Hati

Tuesday, 14 July 2020 06:00:23 WIB | aura.co.id
Ini yang Harus Orang Tua Lakukan Ketika Anak Remajanya Patah Hati
Putra atau putri Anda mungkin untuk pertama kalinya mengalami patah hati. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Apakah Anda memiliki anak yang beranjak remaja dan setelah Anda perhatikan lebih seksama, ia sedang patah hati?

Ya, putra atau putri Anda mungkin untuk pertama kalinya mengalami patah hati. Mungkin bagi Anda, ini adalah satu fase yang bisa dilewati. Tapi Anda juga tahu, pada masa itu, dunia bagi anak Anda terasa berhenti. Anda ingin menolongnya, tapi tentu saja: Anda tidak tahu harus mulai dari mana.

Anda mungkin tidak betul - betul apa reaksi yang akan selanjutnya terjadi setelah anak Anda patah hati. Tidak perlu panik, biarkan mereka menenangkan diri mereka dulu. Meskipun sebenarnya sebagai orang tua, melihat anak Anda sakit hati rasanya betul - betul menyakitkan. 

1. Biarkan ia sendiri

Karena dalam kasus ini, Anda harus membiarkan remaja Anda mengatasinya sendiri. Tidak peduli seberapa banyak Anda ingin membuat segalanya lebih baik untuk mereka, jika Anda ikut campur setiap saat ada yang tidak beres, mereka akan menjadi tergantung pada Anda untuk menyelesaikan semua masalah mereka.

 Perpisahan ini adalah cara yang baik untuk membantu anak Anda belajar mengatasi kekecewaan dalam bentuk apapun. Dan juga untuk mengetahui bahwa  hidup dapat menamparnya dengan keras. Yang jelas, tidak apa-apa jika terluka untuk sementara waktu.

2. Tidak berusaha memperbaiki

Penulis dan 'remaja putri' Sarah Newton setuju. "Jangan mencoba memperbaikinya," katanya. "Mengatakan hal - hal seperti: 'Ini akan menjadi lebih baik' dan 'Masih banyak ikan di laut' tidak akan membantu.

Jangan mendorong mereka untuk berbicara, tapi biarkan mereka menunjukkan apa yang mereka butuhkan.

Ini adalah hal yang sulit dilakukan. Tapi lebih baik menunjukkan bahwa Anda masih berada di sana untuk anak Anda dan akan membantu membuat mereka kapanpun mereka inginkan.

3. Dengarkan, tapi tidak perlu berpihak

Faktanya adalah, Anda mungkin merasa lega dengan perpisahan ini.  Terutama jika Anda mengetahui bahwa anak Anda telah ditipu atau diperlakukan dengan buruk. Tapi mengatakan kepadanya bahwa Anda tidak pernah menyukainya orang yang melukai anak Anda tidak akan membuat sesuatunya menjadi lebih baik.

Memihak - bahkan di sisi anak Anda - mungkin membuat putra atau putri Anda marah dan membela orang yang menyebabkan luka itu. Dalam jangka panjang itu hanya membuat segalanya menjadi dramatis dan situasi menjadi buruk.

4. Yang bisa Anda katakan

"Aku ada di sini untukmu jika kamu memerlukan bantuan dengan cara apa pun," menunjukkan kepada anak Anda bahwa Anda tersedia dan mendukung. 

Meskipun demikian, berilah mereka kesempatan untuk memutuskan apa yang mereka lakukan dan memastikan bagaimana perasaan mereka tentang apa yang terjadi tanpa adanya gangguan. 

Setelah itu, Anda mungkin tidak diminta untuk membantu sama sekali. Remaja sering berbicara dengan teman mereka dan bukan orang tua mereka. Tapi mereka mungkin hanya ingin pelukan atau es krim. Atau mungkin mereka ingin menceritakan apa yang terjadi.

"Anak perlu belajar kecerdasan emosional," kata Janey Downshire, konselor dan penulis Teenager Translated. "Mereka harus belajar memahami emosi mereka tapi tidak benar-benar terbebani oleh emosi itu sendiri."

"Masalahnya jika orangtua terus memberi nasehat ketika anak sedang bermasalah, semakin tidak mampu anak itu bisa mengatasinya sendiri."

Ada perbedaan yang tipis antara selalu hadir dan selalu melakukannya untuk mereka. Apa yang orang tua tawarkan sebaiknya adalah sebuah pandangan yang tidak menghakimi mengenai situasinya. Tidak mudah untuk duduk santai tapi Anda harus tetap bersikap objektif terhadapnya. 

"Adalah benar-benar normal bagi anak yang patah hati untuk mengurung diri di kamar mereka selama beberapa hari," kata Janey. "Tapi cobalah untuk mendorong mereka melakukan hal lain."

Tanpa mengomel atau terlalu menekan, cobalah membuat mereka keluar dari rumah. Jika mereka tidak ingin pergi dengan teman mereka, mintalah mereka ke toko atau makan siang bersama Anda.

"Jika setelah dua minggu, apa pun  yang Anda tawarkan tidak berhasil, mungkin itu adalah bendera peringatan bahwa ada yang berjalan dengan tidak baik," kata Janey, seperti yang dilansir dalam Huffingtonpost.

"Dalam situasi ini, saya akan menawarkan konseling dengan mengatakan 'Adakah orang lain yang ingin Anda ajak bicara?'" pungkas Janey. 

Komentar