aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Ini Faktor Pemicu Pubertas Dini pada Anak

Saturday, 11 July 2020 02:00:23 WIB | aura.co.id
Ini Faktor Pemicu Pubertas Dini pada Anak
Mengalami menstruasi lebih cepat dari usia sebenarnya menjadi tanda si anak mengalami pubertas dini. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Bu, kok ini aku berdarah ya?

Pertanyaan semacam itu tentu akan dihadapi setiap ibu yang memiliki anak perempuan. Mengalami menstruasi lebih cepat dari usia sebenarnya menjadi tanda si anak mengalami pubertas dini.
 
Pubertas tentu sebuah proses alami yang dirasakan setiap orang.

Normalnya seorang anak perempuan baru mengalami pubertas di usia 15-16 tahun, namun kini pergeseran menunjukkan banyak anak perempuan yang sudah mengalami pubertas di usia dini yaitu 8-9 tahun.
 
Faktor yang paling mendasari adalah perubahan gaya hidup masyarakat, pencemaran lingkungan hingga faktor sosial atau pergaulan.
 
Ahli Obstetri dan Ginekologi Dr. Varna Venugopal Rao mengungkapkan beberapa faktor yang memicu pubertas dini.

Diantaranya, obesitas karena kebiasaan makan makanan tidak sehat yang sudah menjadi gaya hidup, tingkat stres yang tinggi di masa kecil seperti mengalami konflik di keluarga atau sekelilingnya juga bisa memicu pubertas dini.
 
Selain itu,seperti dilansir Timesofindia, faktor lain yang memicu pubertas dini adalah penggunaan bahan kimia sintetis dalam plastik, diet kedelai saat kehamilan dan menyusui yang menyebabkan paparan phytoestrogen mempengaruhi tahap pembentukan janin dan mempengaruhi perkembangan masa depan anak.

Fenomena tersebut rupanya sudah dianggap menjadi sebuah tren. Bahkan, ahli mengungkapkan jarang sekali orang tua yang berkonsultasi ke dokter perihal pubertas dini pada anak mereka.
 
Untuk menunda pubertas dini, berikut beberapa cara yang disarankan ahli :

- Memberikan ASI pada anak sejak lahir.

- Hindari makanan non kedelai yang difermentasikan saat ibu hamil. Sebaiknya, konsumsi produk makanan organik, makanan segar atau mentah. Mengapa demikian, karena makanan olahan merupakan sumber utama terbuat dari kedelai dan bahan kimia.

- Simpan makanan dan minuman dalam wadah berbahan gelas bukan plastik. Hindari penggunaan bungkus plastik dan kaleng makanan (yang sering dikaitkan dengan BPA dan phthalates).

- Hindari konsumsi susu dan produk susu lainnya yang mengandung rekombinan bovine yaitu hormon pertumbuhan rekayasa genetika.

- Pastikan bahwa mainan bayi Anda adalah BPA free

Komentar