aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Main Gim Bermanfaat Bagi Anak, Jika.....

Monday, 6 July 2020 22:00:23 WIB | aura.co.id
Main Gim Bermanfaat Bagi Anak, Jika.....
Jangan anggap sepele masalah kecanduan gim. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Teknologi yang semakin canggih menghasilkan semakin banyak media bagi gim video, mulai dari ponsel, perangkat khusus gim, hingga komputer dan laptop. Potensi anak-anak kecanduan pun semakin tinggi. Dan jangan anggap sepele masalah kecanduan gim video ini. Jika dibiarkan, adiksi terhadap permainan bisa mengarah ke gangguan mental serius.

Penyakit Mental 

Dalam draf klasifikasi penyakit terbaru tahun 2018, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencantumkan gaming disorder atau gangguan akibat kecanduan permainan sebagai jenis baru dalam daftar penyakit mental. WHO menjabarkan, gaming disorder mengacu kepada pola kondisi mental atau perilaku kecanduan seseorang yang konsisten terhadap sesuatu, sehingga menyebabkan gangguan perilaku dan gangguan kesehatan mental lainnya.

Menurut WHO, kecanduan gim video bisa diklasifikasikan sebagai masalah gangguan mental jika sudah sampai di tahap memberi pengaruh signifikan terhadap kepribadian, keluarga, lingkungan sekolah, dan pertemanan seorang anak. Namun diagnosis penyakit baru bisa ditegakkan, jika perilaku menyimpang akibat kecanduan permainan itu berlangsung selama setahun.

“Bicara soal kecanduan, banyak anak yang benar-benar mencandu permainan Nintendo dan sejenisnya,” ungkap Cary Quashen, pendiri dan CEO lembaga konseling keluarga Action Family Counseling sekaligus Direktur Eksekutif Departemen Kesehatan Perilaku RS Henry Mayo Newhall, rumah sakit komunitas nirlaba di California, AS. “Untuk mengetahui apakah Anda atau anak Anda kecanduan bermain, cobalah jauhkan ponsel atau perangkat permainan. Lihat bagaimana reaksi Anda atau
anak,” imbuh Quashen.

Gelisah ketika jauh dari komputer atau perangkat permainan, lupa waktu ketika asyik bermain, memprioritaskan permainan dibanding apa pun, tidak tertarik dengan dunia luar, sulit mengendalikan emosi, dan cemas berlebih karena pengaruh permainan mencirikan orang yang terkena gangguan mental akibat kecanduan gim video.

Anak-anak yang sudah kecanduan parah biasanya malas bersosialisasi. Dunia mereka adalah permainan di dalam layar. “Ada banyak orang tua yang menghubungi saya, menanyakan apakah anak mereka mengalami kecanduan bermain karena dunia mereka seperti telah teralihkan. Anak-anak itu tidak tertarik dengan sekolah, olahraga, teman-teman, dan semuanya,” ungkap Quashen.

Main Gim Ada Manfaatnya, Jika...

Jika dimainkan dalam kuantitas yang sesuai, sebenarnya ada manfaat yang bisa diperoleh anak dari permainan video. Bermain gim video memperbaiki suasana hati, mempertajam kemampuan memecahkan masalah, serta meningkatkan koordinasi otak, mata, dan tangan. Menurut jurnal yang dimuat dalam kumpulan jurnal Asosiasi Psikolog AS pada 2014, orang yang bermain gim video mempunyai kemampuan kognitif seperti navigasi, memori, persepsi, kreativitas, menemukan alasan, dan memecahkan masalah yang lebih baik. Bahkan hasil penelitian yang dipublikasikan kumpulan jurnal Scientific Reports pada 2017 mengemukakan, gim video memperlancar kemampuan membaca pada anak pengidap disleksia.

Agar anak bisa menyerap manfaat gim video tanpa terjerumus menjadi pencandu, orang tua harus bisa menjadi moderator. Bagaimana mau melarang anak bermain, jika orang tua ternyata juga mencandu gim video? Boleh saja memperkenalkan anak kepada gim video. Apalagi, bermain gim video bersama anak bisa menjadi momen untuk mempererat ikatan batin anak dan orang tua, biasanya ayah.

Akan tetapi jangan kebablasan. Buatlah aturan yang jelas mengenai waktu, durasi, dan permainan apa saja yang boleh dimainkan anak. Perhatikan pula kehidupan sosial anak di luar rumah. “Orang tua harus bisa memosisikan diri sebagai anak sehingga bisa membuat batasan yang terasa saling menguntungkan (untuk anak dan orang tua) tentang komputer, media sosial, dan gim video,” bilang Quashen. Tak kalah penting, ia menambahkan, “Orang tua harus benar-benar hadir dan terkoneksi dengan anak.”

Komentar