aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Kebiasaan Diet Ketat pada Orang Tua Bisa Sebabkan Anak Menjadi Pilih-pilih Makanan

Thursday, 2 July 2020 01:00:23 WIB | aura.co.id
Kebiasaan Diet Ketat pada Orang Tua Bisa Sebabkan Anak Menjadi Pilih-pilih Makanan
Ada alasan kenapa anak bisa menjadi picky eater atau suka pilih-pilih makanan? (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Ibu mana yang tidak pusing jika anak sulit makan? Ada anak yang tidak suka nasi, hanya mau makan biskuit, tidak mau sayuran, atau menolak makan buah. Padahal anak butuh asupan makanan dengan nutrisi baik dan gizi seimbang untuk mengiringi masa tumbuh kembang mereka. Tidak ingin anak kurang gizi, ibu-ibu biasanya menempuh segala cara agar anak mau makan. Mulai dengan bujuk rayu, menyembunyikan makanan yang tidak disukai, tidak sedikit berujung dengan pemaksaan. Mengapa anak bisa menjadi picky eater atau suka pilih-pilih makanan?

Faktor Genetik

“Untuk kebanyakan anak sehat, memilih makanan adalah bagian normal dari pertumbuhan anak,” kata Natasha Chong Cole, pakar ilmu nutrisi yang sedang menempuh pendidikan doktor di Universitas Illinois, AS. “Namun beberapa studi menunjukkan, pilih-pilih makanan juga berkaitan dengan masalah gangguan makan, masalah emosional dan perilaku, serta berisiko pada kekurangan atau kelebihan berat badan,” imbuh Cole yang penelitiannya dimuat di Jurnal Nutrigenetik dan Nutrigenomik.

Pada 2015, Cole melakukan penelitian terhadap saliva atau cairan yang diproduksi air liur dari 153 anak usia prasekolah (di bawah 5 tahun) untuk menguji DNA dan genotipe mereka. Mengapa dilakukan pada anak balita, karena umumnya anak memasuki fase pilih-pilih makanan sekitar usia 2 tahun. Masa pilih-pilih ini bisa berkurang ketika mereka berusia 6 tahun, namun ada pula yang terus berlangsung hingga anak dewasa. Sekitar usia 3 tahun, kebanyakan anak sudah bisa menyadari makanan apa yang disukai dan tidak serta mengekspresikan rasa enak dan tidak enak.

Hasilnya, dari lima gen reseptor rasa yang diuji, dua di antaranya berkaitan dengan perilaku pilih-pilih makanan. Sementara satu jenis gen lainya berkaitan dengan perilaku anak yang secara konsisten memilih hanya beberapa jenis makanan, dua gen berjenis TAS2R38 dan CA6 berhubungan dengan perilaku menolak otoritas orang tua atau upaya untuk mengendalikan pilihan makanan. Selain itu gen TAS2R38 dan CA6 ini terkait dengan rasa pahit yang tinggi, yang membuat anak sangat selektif terhadap rasa makanan. Tidak hanya rasa, pengaruh gen membuat anak memilih makanan berdasarkan warna, tekstur, dan bau pada makanan anak-anak.

Pola Asuh

Akan tetapi faktor genetik bukanlah satu-satunya penyebab anak pilih-pilih makanan. Cole menyebut, pola asuh orang tua memegang peranan penting dalam membentuk kebiasaan makan anak. Orang tua yang susah makan, pilih-pilih makanan, diet ketat, sulit mengontrol diri ketika makan, termasuk memiliki riwayat menyusui ternyata memengaruhi kebiasaan makan anak. Misalnya orang tua yang enggan menyentuh sayur atau mengonsumsi karbohidrat berlebih di depan anak di bawah usia 2
tahun, yang merupakan masa kritis anak mempelajari kebiasaan makan. “Tipe orang tua yang otoriter atau permisif juga sangat memengaruhi perilaku makan anak yang
berkaitan dengan pilih-pilih makanan,” bilang Cole.

Ketika orang tua terlalu ketat menyusun jadwal dan menu makan, anak akan menganggap makan kegiatan tidak menyenangkan dan intmidatif. Ini juga terkait dengan gen tipe TAS2R38 dan CA6, sebagaimana disebutkan di atas, yang membuat anak cenderung
menolak otoritas orang tua dalam pemilihan makanan.

“Penting untuk memahami si pemilih makanan. Itu akan membantu membangun strategi bagi orang tua di waktu makan dan memperbaiki kebiasaan makan, pertumbuhan berat badan, serta perkembangan anak. Tawarkan berbagai jenis makanan, tapi jangan paksa mereka,” Cole menyarankan.

Ketika orang tua terlalu keras menjejali anak dengan sayur, buah, atau makanan super lainnya, waktu makan akan terasa menyiksa bagi anak. Berikan kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi dengan sebanyak-banyaknya makanan dengan aneka warna, bentuk, bau, tekstur, dan citarasa. Seiring berjalannya waktu, anak dan orang tua akan belajar memahami selera makan dan menemukan zona nyaman mereka.

Kebiasaan diet ketat pada orang tua bisa menyebabkan anak menjadi pilih-pilih makanan.

Komentar