aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Meredam Konflik Kakak dan Adik saat Berbagi Kamar

Friday, 19 June 2020 06:00:44 WIB | aura.co.id
Meredam Konflik Kakak dan Adik saat Berbagi Kamar
Ilustrasi (Depositphotos.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Bukan hal aneh bila saudara kandung berbagi kamar tidur. Namun urusan berbagi kamar tidur ini tak selalu berjalan mulus. Tak jarang, justru timbul konflik antara si kakak dan adik. Lantas, bagaimana cara orang tua menyikapinya?  

Craig Canapari, MD, dokter anak dan Direktur Pusat Tidur Anak di Universitas Yale, AS, mengatakan idealnya anak-anak yang berbagi kamar berjenis kelamin sama dengan usia tidak terpaut jauh. Semakin jauh jarak usia kakak dan adik, semakin rentan timbul konflik. 

Soal jenis kelamin, sebenarnya tak ada larangan bagi anak yang berbeda jenis kelamin berbagi kamar. Bukan masalah karena berbagai alasan, misalnya keterbatasan ruangan, anak-anak berbeda jenis kelamin menghuni kamar yang sama. 

Emily Kircher-Morris, MA, MEd, LPC, konselor profesional bersertifikat dari St. Louis, Missouri, AS, mengungkapkan anak yang memasuki usia sekolah biasanya akan merasa kurang nyaman bila harus berganti pakaian di depan saudaranya yang berbeda jenis kelamin. Namun orang tua bisa menyediakan tempat khusus untuk berganti pakaian di dalam kamar. 

Keadaan ini sedikit berubah saat anak memasuki masa pubertas. "Penting bagi anak memiliki ruang di mana mereka merasa nyaman dengan tubuh mereka ketika mengalami pubertas. Rasa khawatir akan citra tubuh (pada masa remaja) akan membuat anak merasa tidak nyaman atau tidak percaya diri dengan tubuh mereka. Dan berbagi kamar rentan meningkatkan rasa khawatir pada diri anak," papar Emily. 

Agar anak tetap akur ketika berbagi kamar, Dr. Jennifer Guttman, psikolog klinis yang praktik di New York dan Connecticut, AS menerangkan pentingnya memberi pemahaman kepada anak. "Tanamkan kepada anak yang lebih tua untuk lebih fleksibel dalam situasi ini dan menjadi panutan positif untuk adiknya," anjur Jennifer. Di sisi lain, beri pengertian kepada adik untuk memberi waktu sendiri di kamar untuk si kakak, terutama bila kakak telah memasuki usia remaja. 

Langkah berikutnya, orang tua harus memikirkan preferensi lingkungan tidur yang disukai anak. Misalnya, apakah si kakak lebih suka tidur dengan lampu menyala sedangkan adik lebih suka keadaan gelap. Untuk menjembatani perbedaan preferensi ini, Craig menyarankan orang tua menyiapkan anak yang lebih kecil menyesuaikan dengan kebiasaan si kakak. 

“Sebaiknya adik terbiasa tidur di lingkungan sensorik yang sama dengan kakaknya sebelum ia dipindahkan (ke kamar bersama kakaknya),” urai Craig. Tujuannya agar kehadiran adik di kamar kakak kelak tidak dianggap sebagai gangguan oleh kakak. 

Komentar