aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Tanpa Disadari, 4 Kebiasaan Orang Tua Ini Bisa Membunuh Kreativitas Anak

Thursday, 11 June 2020 05:00:23 WIB | aura.co.id
Tanpa Disadari, 4 Kebiasaan Orang Tua Ini Bisa Membunuh Kreativitas Anak
Pola asuh, perlakuan, dan kebiasaan orang tua ternyata berpengaruh besar terhadap kreativitas anak. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Anak-anak dilahirkan dengan kegeniusan dan kreativitas alami. Namun sayangnya, seiring tumbuh besarnya mereka, kreativitas alami dapat berubah. Ada yang berkembang dengan baik, ada yang justru terkikis perlahan-lahan.

Pola asuh, perlakuan, dan kebiasaan orang tua ternyata berpengaruh besar terhadap kreativitas anak. Tanpa disadari, ada beberapa kebiasaan orang tua yang niatnya baik tetapi justru dapat membunuh kreativitas anak. Apa saja kebiasaan-kebiasan itu?

1. Memberikan iming-iming hadiah
Mungkin para orang tua bermaksud baik, memberi iming-iming hadiah atas setiap prestasi dan hasil yang baik sebagai motivasi dan penyemangat. Akan tetapi penelitian ilmiah menunjukkan, imbalan justru menghambat eksplorasi dan imajinasi anak-anak. Seorang anak yang diiming-imingi hadiah atau stiker bintang di "buku catatan prestasi" atas keberhasilan tertentu, hanya akan mendorong dirinya melakukan usaha yang dibutuhkan untuk mendapatkan hadiah.

Selebihnya, ia merasa puas setelah mendapatkan hadiah dan tidak akan mendorong dirinya lebih jauh. Imbalan hadiah juga akan menghilangkan kesenangan intrinsik kegiatan kreatif. Yang diinginkan adalah anak-anak yang merasa terlibat, termotivasi, dan berpikir dengan liar, bukan anak-anak yang menginginkan stiker bintang memenuhi buku.

2. Membayang-bayangi
    
Ada orang tua yang senang duduk di samping anaknya sambil memberi komentar ketika si anak menggambar, menulis, membaca buku cerita, atau mengerjakan proyek tugas sekolahnya. Entah dengan alasan ingin membantu sang anak jika mengalami kesulitan, memberi masukan dan ide, atau sekadar kepo. Yang harus diketahui, kebiasaan membayang-bayangi anak seperti itu akan menghambat kreativitasnya.

Anak akan merasa diawasi, takut melakukan kesalahan, takut mendengar komentar dan kritik. Biarkanlah anak bekerja dengan bebas. Jika anak terus-menerus diawasi, anak tidak akan belajar mengambil risiko. Mereka juga tidak akan mengalami nilai membuat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.

3. Membatasi pilihan
Tanpa disadari orang tua kerap menempatkan anak-anak dalam sistem yang mengajarkan mereka "hanya ada satu jawaban yang benar". Bahkan kebanyakan mainan diberikan lengkap dengan petunjuk penggunaan dan kita hampir tidak membiarkan mereka memilih bagaimana cara memainkannya.

Padahal, mengeksplorasi pilihan adalah inti dari cara berpikir lateral; memecahkan masalah melalui pendekatan langsung dan kreatif, dengan menggunakan penalaran yang tidak lugas dan melibatkan ide-ide yang mungkin tidak diperoleh dengan hanya menggunakan logika tradisional langkah demi langkah. Anak-anak yang kreatif merasa bebas untuk mengusulkan solusi alternatif dan lebih tajam untuk mengikuti rasa ingin tahu mereka.

4. Memberi jadwal terlalu padat
Sekolah, les pelajaran, les piano, klub bela diri, les mengaji, dan mengerjakan PR. Seolah jadwal kegiatan harian anak tidak pernah cukup penuh, Anda terus berusaha mencarikan les ini-itu dan kegiatan ini-itu dengan alasan mengembangkan potensi anak. Saking sibuknya mencarikan kegiatan untuk stimulasi kreativitas dan bakat, orang tua sering lupa untuk mengalokasikan waktu untuk memberikan stimulus yang paling penting dari semua itu: kebosanan.

Ya, penting bagi anak untuk merasakan kebosanan. Rasa bosan akan memancing anak berimajinasi dan imajinasi menghasilkan kreativitas. Orang dewasa sering kali mengatakan, "Saya butuh duduk dan tidak melakukan apa pun untuk mencari ide." Namun, mengapa tidak memberlakukannya untuk anak-anak? Padahal Anda sendiri tahu, pada saat tidak melakukan apa-apa itulah pikiran kita kerap mendapatkan ide-ide terbaik.

Komentar